Wahai isteriku,
Maafkan aku tidak menemanimu
Di saat engkau menimang kucingmu
Bukannya aku tak cinta padamu
Aku hanya berusaha untuk tetap sehat
Agar kelak bisa menjagamu
Ketika mungkin engkau merasakan sakit akibat kucing itu
(19 Oktober)
Wahai suamiku,
Maafkan aku tidak bisa menemanimu
Di waktu engkau sulut tembakau itu
Bukannya aku tak cinta padamu.
Aku akan berusaha agar tak mengirup asap itu
Agar kelak bisa menjagamu
Disaat kau sakit karena kebiasaanmu itu
(20 oktober)
Dalam pengajian sebuah pesta pernikahan shahabatku. Diah Anitasari, seorang yang cantik dan enak bila diajak ngobrol ini adalah salah satu korban bencana alam di daerah bantul. Memang rumahnya tidak separah rumah-rumah disekitarnya. Mungkin karena mantu sehingga rumah tersebut lekas diperbaiki, buktinya atap masih terbuat dari asbes, bukan gentheng yang biasa dipakai sebagai atap rumah-rumah di Bantul.
Maafkan aku tidak menemanimu
Di saat engkau menimang kucingmu
Bukannya aku tak cinta padamu
Aku hanya berusaha untuk tetap sehat
Agar kelak bisa menjagamu
Ketika mungkin engkau merasakan sakit akibat kucing itu
(19 Oktober)
Wahai suamiku,
Maafkan aku tidak bisa menemanimu
Di waktu engkau sulut tembakau itu
Bukannya aku tak cinta padamu.
Aku akan berusaha agar tak mengirup asap itu
Agar kelak bisa menjagamu
Disaat kau sakit karena kebiasaanmu itu
(20 oktober)
Dalam pengajian sebuah pesta pernikahan shahabatku. Diah Anitasari, seorang yang cantik dan enak bila diajak ngobrol ini adalah salah satu korban bencana alam di daerah bantul. Memang rumahnya tidak separah rumah-rumah disekitarnya. Mungkin karena mantu sehingga rumah tersebut lekas diperbaiki, buktinya atap masih terbuat dari asbes, bukan gentheng yang biasa dipakai sebagai atap rumah-rumah di Bantul.
Dalam suasana pernikahan yang sederhana tapi penuh canda dan tawa itu aku datang agak terlambat sehingga hanya sepenggal ilmu yang kudapat dari pengajian. Pengajian diisi oleh kyai entah dari seberang mana asalnya yang jelas beliau pinter nembang sehingga masyarakat desa sangat antusias medengarkannya apalagi diselingi dengan humor-humor orang dewasa. Wah jadi rame dan asyik apabila disana.
Kyai berpesan kepada pengantin untuk melaksanakan tugas sebagai suami istri sebaik-baiknya. Beliau mempunyai definisi tugas SUAMI sebagai sebuah akronimnya yang berasal dari Sanggup, Ulet, Asih, Mandiri dan Iman/Ihsan. Sebagai seorang suami maka dia harus mampu dan mau untuk mencari nafkah buat keluarganya. Dalam mencari nafkah harus ulet jangan pantang menyerah sampai mendapatkan rezeki yang diridloinya. Aneng seh inilah tugas suami selanjutnya yaitu memberi kasih saying kepada keluarganya. Banyak keluarga hancur karena seorang suami mencari rezeki melupakan istri dan anaknya. Mereka butuh perhatian dan pendidikan dari figur seorang ayah. Mandiri, seseorang yang telah memutuskan untuk menikah bukan berarti orang yang telah kaya raya tapi dialah yang tidak mau tergantung kepada orang lain misalnya mertua. Dan iman inilah tujuan utama menjadi seorang suami yaitu selalu mendekatkan diri pada Allah, selalu mengingatnya bukan melupakannya,
Begitu pula ISTRI, berasal dari sebuah akronim yang menunjukkan tugas-tugasnya yaitu Ikhlas, Sabar, Taat, Ramah dan Iman. Sebagai seorang istri harus ikhla berapapun kesanggupan suami menerima rezeki yang diberikan oleh Allah. Kemudian istri harusnya sabar karena istri mempunyai tingkat kesabaran yang lebih tinggi. Istri juga harus taat kepada suami sebagai pemimpinnya. Istri yang ramah akan membuat suami merasa tenang untuk meninggalkannya bekerja. Dalam hal ini pernah ada petuah untuk seorang istri yaitu harus ramah di kamar tamu, ghairah di kamar tidur dan ngirit di dapur. Jangan sampai terbolak balik karena akan merusak keharmonisan rumah tangga.
Entah dari mana aku pernah mendapatkan puisi cantik di atas itu. Sangat menyentuh hati ketika seorang suami digugat oleh sang istri dia membuat sebuah puisi yang indah itu. Setelah itu urunglah perceraian keluarga tersebut. Oleh karena itu aku menuliskan dalam versi yang agak berbeda puisi tersebut.
Cinta sejati merupakan cinta yang sangat unik. Entah apa membuat ketenangan jiwa selalu aja ada. Ini bisa terjadi karena saling memahami antara suami dan isteri. Seorang suami bahagia bukan karena dia mendapatkan isteri yang cantik, begitu pula seorang isteri bahagia bukan karena mendapatkan suami yang ganteng. Akan tetapi, isteri yang mampu memahami dan berusaha memperbaiki sifat-sifat buruk pada suaminya, suami yang selalu berusaha memahami apa-apa yang dilakukan oleh isterinya.
Saling memahami adalah hal yang timbul bukan karena kebaikan seseorang, tetapi malah datang dari keburukannya. Oleh karena saling memahami itulah antara suami dan isteri bisa jujur dan ikhlas dalam menjalani hidup ini. Dengan saling memahami inilah semua bisa berubah dari sebuah keburukan menjadi kebaikan. Dan inilah yang membuat kelurga tetap utuh walau dirundung masa.
Memang secara teori saling memahami adalah hal yang sangat mudah untuk dijalankan. Tetapi dalam tataran praktis terdapat yang namanya beda pendapat antara suami istri maupun keluarga. Hal inilah yang sulit untuk menciptakan sebuah saling pemahaman antara keduanya. Bukan hanya pitam yang naik tetapi juga gelas,piring atau vas bunga naik, turun kemudian hancur dibantingnya. Bagaimanapun sikap yang baik untuk menghadapi perbedaan pendapat adalah tidak berebut kebenaran, karena hanya satu, kebenaran tak mungkin diperebutkan. Kebenaran harusnya dicari bersama-sama karena komitmen pernikahan adalah untuk menjadi pasangan pencari kebenaran. Janganlah berebut kebenaran.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar