Nafsu birahi adalah bagian yang paling sulit untuk dikendalikan dan kerap mengajak pelakunya untuk mencari-cari peluang dalam menyalurkannya. Bila tidak didapati sesuatu yang memuaskannya, maka ia (manusia) akan dihantui perasaan gundah gulana atau gelisah, hingga menimbulkan goncangan jiwa, yang kemudian menyebabkannya jatuh dalam perbuatan jahat. Pernikahan adalah salah satu sarana alamiah yang cukup baik dan cocok untuk memberikan kepuasan nafsu birahi manusia, hingga dapat membuat jiwa menjadi tenang, pandangan aman dan perasaan damai. Dengan semua yang dihalalkan oleh Allah SWT. Demikian sedikit pendapat yang diungkapkan oleh Abdul Mutholib Hammad Utsman yang dibubuhkan dalam sebuah Hikmah pernikahan yang terdapat dalam buku Kisah Unik Malam Pertama.
Pendapat tersebut memang ada yang benar tetapi tidak berlaku untuk semua orang. Ketenangan jiwa kadang didapatkan oleh biksu-biksu dalam agama hindu atau budha tanpa menjalani pernikahan. Mereka mampu mengendalikan hawa nafsu dengan menruti apa yang dinamakan dengan vegetarian dan ucapan-ucapan yang mirip dzikir dalam islam. Dalam agama islampun ada hadist yang menyatakan bahwa apabila belum mampu menikah disarankan untuk menjalankan puasa. Jika kita lihat biksu melaksanakan puasa dengan vegetarian sedangkan dalam islam melaksanakan puasa dengan aturan tidak makan dan minum di waktu siang hari.
Pernikahan juga dilakukan oleh seseorang dengan dasar cinta. Cinta yang mereka rasakan antar jenis kelamin membuat orang melaksanakan acara pernikahan. Tetapi tidak semua pernikahan pada mulanya didasarkan dengan cinta. Atau tidak semua pernikahan atas dasar cinta akan bahagia. Oleh sebab itulah cinta bukanlah penyebab mutlak terjadinya pernikahan. Banyak kehidupan rumah tangga yang hancur lebur walaupun cinta antar suami istri masih ada.
Aku juga bingung apakah yang menyebabkan sebuah pernikahan. Belum ada sedikitpun sebuah petunjuk apa penyebab suatu pernikahan. Jadi pernikahan merupakan sebuah misteri layaknya kelahiran maupun kematian. Misteri-misteri ini sulit untuk dilihat atau digunakan sebagai sebuah makna. Di dalam al Qur’an sendiri terdapat beberapa misteri tentang makna sebuah kata misalnya Alif lam min tidak ada kamus setebal apapun yang menjelaskan arti kata tersebut. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa pernikahan merupakan misteri Illahiyah. Bisa pula dikatakan takdir.
Padahal pernikahan banyak sekali direncanakan. Seperti pernikahan yang direncanakan 16 november 2006 tersebut. Perencanaan sudah dilakukan 6 bulan bahkan 6 tahun yang lalu. Kenapa disebut sebagai misteri? Sebelum akad nikah dikumandangkan oleh kedua mempelai dan para saksi mengatakan syah kemungkinan apapun masih saja bisa terjadi. Karena pernikahan adalah misteri. Karena misteri inilah makanya orang tidak akan sembarangan untuk merencanakan sebuah perhelatan pernikahan. Mereka selalu bertanya-tanya kepada siapapun yang lebih mengerti tentang pernikahan. Itulah tugas manusia menghadapi sebuah misteri tidak boleh menyerah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar