Jumat, 21 Desember 2007

Perut Karet

Tamuku ini sangat istemewa buatku. Wanita yag kuanggap sebagai saudaraku sendiri. Apalagi ternyata dia punya jalur keturungan yang juga berasal dari Dawung tempat tinggalku. Dan bahkan masih sedulur denganku.
Memang sebenarnya aku telah menduga bahwa dia mungkin saja bersaudara dengan keluargaku setelah membaca silsilah masyarakat Gunung Kidul dalam sebuah novel yang berjudul “Pulung Gantung di Gunung Kidul”
Dia pertama kali ke Sragen aku sedang di Tapanuli sehingga tidak tahu siapakah yang menjadi sedulurnya itu. Setelah kutanya-tanya ternya dia masih pak likku juga. Bahkan istrinya masih satu keturunan dengan diriku.
Sedulur jauh dan lama tak jumpa menyambungkan silaturahmi kami itulah istimewanya tamuku itu. “Arin” begitulah aku memanggil mahasiswi jurusan Pendidikan Matematika itu.
Ada usul usil yang masuk di pikiranku untuk tamuku ini untuk menambah kesan. Maklum kami berdua kalo berteu sering salin ejek. Walaupun begitu kami tak pernah merasa tersinggung. Mungkin diantara kami sudah tahu kalu itu hanya pura-pura saja. Karena kami juga sering saling menasehati, berbagi kesedihan dan lain sebagainya.
Kisah usilku adalah ketika jamuan makan. Kami sekeluarga, Arin dan Titik makan dirumah. Sebagai tuan rumah aku mengambilkan nasi untuk tamuku itu. Kuberi nasi yang sangat banyak. Satu piring penuh yang mengingatkanku pada orang-orang Batak ketika makan.
Ajaibnya tidak ada protes pada diri Arin. Mungkin dia menganggap bahwa memang orang sini makan sebanyak itu. Padahal tidak, aku hanya satu enthong, titikpun makan sekitar setengah piring. Dan dia melahap habis nasinya.
“Benar-benar perut karet” begitulah ejekku ketika selesai makan. Diiringi tawa ketika aku bercerita kisah usilku kepada dia.

Tidak ada komentar: