Bagai pinang dibelah dua demikian sebutan buat dua orang yang sama rupanya. Jika memang dari rahim yang sama dikenal sebagai saudara kembar. Tapi anehnya antara kesedihan dan kesenangan oleh Gede Prama disebut saudara kembar. Penjelasan gede prama yang panjang lebar mirip dengan cerita dua pedagang peyem Aa Gym.
Memang ditempat kelahiran Aa Gym ini kaya akan makanan busuk dari singkong tersebut. Ceritanya dua pedagang peyem Asep dan Usep pergi ke pasar dari rumahnya. Mereka berdua memang tetangga dekat, rumahnya saling berhadapan dan dagang peyem merupakan pekerjaan sehari-hari mereka. Untuk mencapai pasar mereka harus melewati sawah dan menyebrang sungai dengan memikul dua keranjang peyemnya.
Sial bagi Asep ketika menyebrang sungai dia tiba-tiba terpeleset. Beribu-ribu hewan keluar dari mulut Asep ketika itu. Anjing, Bajing, Monyet dan hewan-hewan lainnya berulangkali terucap dari mulutnya sebagai tanda kesal. Sedangkan Si usep selamat sampai di seberang. Urunglah si Asep kepasar dan Useppun naik angkutan langganannya.
Sampai dirumah si Asep terus menerus mengguman. Didalam batinnya dia berteriak “Allah kenapa semua ini tertimpa padaku, bukankah kau tahu sebulan lagi kebutuhanku banyak karena mau menikah sedangkan si Usep kehidupannya sudah cukup mewah mengapa selalu saja aku yang celaka” memang si Asep ini beberapa kali jatuh entah di sawah atau sungai sehingga dia banyak merugi. Sebulan lagi dia berencana melaksanakan pernikahannya dengan seorang gadis yang super solehah dan berbakti pada orag tua. Diapun akhirnya hanya pergi ke hutan mencari kayu bakar.
Dua ikatan besar kayu hutanpun terkumpul oleh Asep. Diapun beranjak pulang dan sempat mandi disungai dekat hutan. Selesai mandi diapun bergegas cepat-cepat pulang. Tak seperti biasa, jalan didesanya kelihatan sunyi ” jam-jam segini biasanya banyak yang pergi mencari rumput tapi kok tidak ada orang ya” pikir Asep.
Sesampainya di gang rumahnya dia melihat banyak orang berkerumun didepan rumahnya. Diapun mempercepat langkah ingin tahu ada apa gerangan disana. Malang Usep yang pagi tadi bersamanya kini telah meninggal dunia karena angkutan yang ditumpanginya masuk ke jurang sedalam 50 m. tak ada yang selamat dalam angkutan tersebut. Selain Usep dia juga mengenal Dayat, Yayat, Rasid yang biasanya satu angkutan dengannya.
Innalilahi dicampur dengan Alhamdulillah bercampur didalam hatinya. “Untung saja saya tadi jatuh disungai, kalau tidak mungkin sebulan lagi Aisyah menikah dengan laki-laki lain”
Demikianlah si kembar. Satu realita ternyata terdapat dua persepsi. Asep jatuh bisa menjadi kesialan atau keberuntungan, rasa kecewa atau rasa bahagia, rasa senang atau gembira. Semua hanya perasaan saja. “Pilih yang mana?” begitu Aa Gym mengakhiri ceritanya. Semua yang hadir langsung menjawab serentak “bersyukur”.
Membangun rumah tangga adalah realita. Menyukuri sebuah pernikahan terasa lebih enak dibandingkan memendam rasa kecewa. Karena manusia tidak tahu kelak akan seperti apa. Menyedihkan atau menyenangkan sebenarnya realitanya sama yaitu menikah.
Memang ditempat kelahiran Aa Gym ini kaya akan makanan busuk dari singkong tersebut. Ceritanya dua pedagang peyem Asep dan Usep pergi ke pasar dari rumahnya. Mereka berdua memang tetangga dekat, rumahnya saling berhadapan dan dagang peyem merupakan pekerjaan sehari-hari mereka. Untuk mencapai pasar mereka harus melewati sawah dan menyebrang sungai dengan memikul dua keranjang peyemnya.
Sial bagi Asep ketika menyebrang sungai dia tiba-tiba terpeleset. Beribu-ribu hewan keluar dari mulut Asep ketika itu. Anjing, Bajing, Monyet dan hewan-hewan lainnya berulangkali terucap dari mulutnya sebagai tanda kesal. Sedangkan Si usep selamat sampai di seberang. Urunglah si Asep kepasar dan Useppun naik angkutan langganannya.
Sampai dirumah si Asep terus menerus mengguman. Didalam batinnya dia berteriak “Allah kenapa semua ini tertimpa padaku, bukankah kau tahu sebulan lagi kebutuhanku banyak karena mau menikah sedangkan si Usep kehidupannya sudah cukup mewah mengapa selalu saja aku yang celaka” memang si Asep ini beberapa kali jatuh entah di sawah atau sungai sehingga dia banyak merugi. Sebulan lagi dia berencana melaksanakan pernikahannya dengan seorang gadis yang super solehah dan berbakti pada orag tua. Diapun akhirnya hanya pergi ke hutan mencari kayu bakar.
Dua ikatan besar kayu hutanpun terkumpul oleh Asep. Diapun beranjak pulang dan sempat mandi disungai dekat hutan. Selesai mandi diapun bergegas cepat-cepat pulang. Tak seperti biasa, jalan didesanya kelihatan sunyi ” jam-jam segini biasanya banyak yang pergi mencari rumput tapi kok tidak ada orang ya” pikir Asep.
Sesampainya di gang rumahnya dia melihat banyak orang berkerumun didepan rumahnya. Diapun mempercepat langkah ingin tahu ada apa gerangan disana. Malang Usep yang pagi tadi bersamanya kini telah meninggal dunia karena angkutan yang ditumpanginya masuk ke jurang sedalam 50 m. tak ada yang selamat dalam angkutan tersebut. Selain Usep dia juga mengenal Dayat, Yayat, Rasid yang biasanya satu angkutan dengannya.
Innalilahi dicampur dengan Alhamdulillah bercampur didalam hatinya. “Untung saja saya tadi jatuh disungai, kalau tidak mungkin sebulan lagi Aisyah menikah dengan laki-laki lain”
Demikianlah si kembar. Satu realita ternyata terdapat dua persepsi. Asep jatuh bisa menjadi kesialan atau keberuntungan, rasa kecewa atau rasa bahagia, rasa senang atau gembira. Semua hanya perasaan saja. “Pilih yang mana?” begitu Aa Gym mengakhiri ceritanya. Semua yang hadir langsung menjawab serentak “bersyukur”.
Membangun rumah tangga adalah realita. Menyukuri sebuah pernikahan terasa lebih enak dibandingkan memendam rasa kecewa. Karena manusia tidak tahu kelak akan seperti apa. Menyedihkan atau menyenangkan sebenarnya realitanya sama yaitu menikah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar