Jumat, 21 Desember 2007

Indahnya Saling Berbagi

November 2006 merupakan momen mengecewakan. Momen pernikahan Dewi sangat menyiksaku karena tak bisa menyumbangkan sebuah tembang klasik penuh kenangan “Nyidam Sari”. Tembang itu hanya kudendangkan di Sebelah utara Kota Madina, Sumatera Utara.

Kembali terulang ketika mau membawakan tembang “mas kumambang” di gunung kidul aku harus melaksanakan tugas di Jakarta. Bukannya aku tak cinta pada adikku yang bernama Ika Wulandari. Memang sebenarnya aku kecewa dengan dia. Bukan karena dia menikah dengan orang lain, tetapi dia memutuskan beberapa keinginanku yang tak mungkin bisa terlaksana ketika dia menikah terlebih dulu. Kedua, yang sangat menggangguku ketika dia menikah adalah aku juga ingin sekali menikah.

Sampaikan Maaf dan salam buat keluargau dik. Semoga walimatul ursy dik Ika dan Mas Deni dapat berjalan dengan lancer dan berkah sampai akhir jaman. Ami..n! dan semoga tali silaturahim kita semua semakin erat walau tanpa kedatanganku.

Kubaca lagi beberapa hadiah pernikahanku terhadap dik dewi yang tak sempat kuberikan padanya. Entah karena apa aku merasa itu bukan tulisanku sendiri yaa…! Padahal berhari-hari kutulis itu dengan tanganku. Aku merasa heran betapa bagusnya tulisan itu. Semoga tulisan itu berguna tuk menjalani hidup berkeluarga dengan suamimu.

Ini ada sebuah cerita yang mugkin berguna padamu.

Suatu hari ada seorang kakek dan nenek datang di sebuah perkantoran elit Jakarta Selatan. Mereka berdua tampak sangat istemewa dari pandanganku, karena keduanya memang paling beda dengan orang-orang disekitarnya. Orang-orang dikantor tersebut kelihatan sangat sibuk, tapi kedua pasangan itu terlihat berjalan santai saling pegangan tangan. Orang-orang dikantor kelihatan sangat gagah tegap dan hampir semua berdasi rapi, kedua pasangan itu rambut keriput jalan bungkuk dan bajunya mode tahun tujuh puluhan.

Merekapun kesulitan menaiki tangga demi tangga di kantor tersebut. Untunglah ada seorang pria muda menolongnya. Akan tetapi, kedua pasangan itu menolak dengan berbagai alasan. Pemuda itu pun hanya ngobrol dengan sepasang kakek nenek tersebut. Dari perbincangan mereka ternyata kakek nenek tersebut hanya menuju kantin kantor di lantai kedua.

Di peroleh informasi juga bahwa mereka berdua dulu bekerja dikantor itu. Mereka ingin bernostalgia disana. Akhirnya walaupun dengan kesulitan berjalan ketiganya sampai juga di lantai kedua. Karena tidak ingin mengganggu pasangan kakek dan nenek tersebut pemuda itu duduk di meja yang berbeda. Dan mereka memesan makanan pada pelayan yang menghampirinya.

Hidangan yang dipesanpun datang. Tapi aneh sepasang kakek nenek itu hanya memesan satu porsi ayam goreng dan pemuda itupun sama memesan ayam goreng. Pemuda yang melihat keanehan itupun menawarkan ayam gorengnya kepada sang nenek “Nek, ini ayam goreng saya buat nenek aja” mengira mereka tak mampu membeli dua porsi ayam goreng. Dengan senyum manis ala orang tua, nenek itu menggeleng dan kemudian menatap suaminya yang akan menikmati makanan.

Terlihat kakek menyantap makanannya dan nenek tersebut hanya senyum dan melihat sang suaminya sedang makan ayam goreng. Mungkin dulu memang itulah kesukaan sang suaminya pikir pemuda itu.

Setelah lama dan merasa sangat iba pada si nenek pemuda itupun bergerak dan berbicara pada suami-istri tersebut. “Kek, kenapa nenek tidak makan? Mereka hanya tersenyum. “Apa mau dipesankan makanan yang lain nek?” Tawar pemuda itu “karena berbagai pertanyaan tersebut sang kakek akhirnya membuka mulut untuk bicara. “Nak, kami kalau makan harus bergantian” “Mengapa harus bergantian bukankah makan bersama lebih enak?” Pertanyaan lagi dari pemuda itu. “ memang sebenarnya lebih enak makan bersama-sama tapi sayangnya gigi palsu kami hanya bisa untuk satu orang, nanti setelah makananku habis gigi itu di gunakan oleh istriku”.

Cerita tersebut menghiasi buku mungil dengan judul “setengah isi setengah kosong” yang mengalami beberapa perubahan. Cerita yang lucu tapi juga memberikan arti nikmatnya saling berbagi. Seorang suami istri yang hidup bahagia sampai tua renta masih pula mesra. Itulah cita-cita sebuah pernikahan. Semoga pernikahan Ika Wulandari dan Deni Suharyono mampu hidup bagai seorang kakek dan nenek tadi. Amiiin.

Tidak ada komentar: