Jumat, 09 Mei 2008

Suratmu Untuk Titik

Kepada Sahabat Karibku
Titik Wahyuni & Peno Suryanto

Semoga Allah SWT memberkahi persahabatan kita. Bahagianya diriku, jika ingat bhwa ms peno adalah saudara jauhku. Walaupun sangat jauh, hatiku merasa makin mantap menyebutnya sebagai kakakku. Dengan begitu ada banyak alasan menjadi sahabat karip seorang Titik Wahyuni. Karena dia adalah teman senasip saudraku yang sama katroknya denganku itu.
Kita akan selalu ingat, kenangan di kebun tebu. Itu tebu termanis yang pernah kumakan sejak terahir kudapatkan waktu kecil. Setelah menginjak remaja, tiap kulihat pohon tebu inginnya meminta pada sang pemilik. Tapi banyak pikiran yang memberatkanku. Jika ada sahabat disampingku saat keinginan makan tebu muncul, mereka mengajakku untuk mencuri saja. aku tertawa karena bagiku itu tidak akan nikmat, tapi kadang muncul juga bisikan untuk sepakat dengan ajakan itu. Walau tidak terjdi. Spai akhirnya kita makan tebu bertiga, dengan jaminan seorang Peno yang ngaku sebagai Suryanto alias matahari.
Nikmatnya tebu membuatku lupa kisah para tengkulak. Yang makan uang banyak sebelum melihat hasilnya. Kita makan tebu manis sebelum mendapat kepastian kebolehannya.
Saat ini aku sehat wal afiat. Satu hal yang kadang membbuat air mataku menitik, buah hatiku. Aku sangat ingin bekerja agar mendapat penghasilan. Aku ingin anakku mendapat perhatian lebih dariku. Doaku yang tak terputus untuknya, semoga allah SWT tidak menegur/menghukumku melalui dia, semoga buah hatiku tidak akan merasakan Asma, Gloukoma, dan apapun yang pernah kuderita. Aku ingat, dokter bilang sakitku itu adalah keturunan. Sejak kecil kurasakan semua itu. Kadang dunia terasa sepi, sendiri, karena orang tua kita ternyata juga banyak masalah. Beban mereka terlalu berat untuk ditambah masalah kita dengan detail.
Sungguh aku bersyukur atas segala yang pernah kurasakan, karena dari sana ada hikmah. Semoga Allah selalu menegurku dengan hikmah langsung padaku. Hatiku masih juga berbisik, “jangan pada anakku”. Semoga hikmah yang tidak akan menyusahkan yang akan diterima anakku. Ah, begini juga kah dulu perasaan ibu kita? Lagi-lagi air mataku berlinang. Alangkah besar pengorbanan ayah ibu kita dulu. Mereka tanpa pendidikan yang memadahi seperti kita, tanpa pengetahuan yang maju seperti kita… alangkah berat perjuangan mereka dahulu. Kini aku baru mengerti, mengapa surga ada ditelapak kaki ibu.
Seorang ibu,… beliau selalu ingin memberikan yang terbaik untuk buah hatinya. Disisi lain mereka ingin menjaga kehormatan suaminya, dari dunia dan api neraka. Ditambah lagi dengan segala keterbatasan seorang istri… seorang perempuan.
Aku ingat tudingan dan kalimat yang merendahkanku ketika aku aktiv di lingkungan masyarakat, “kamu perempuan, bisa apa…”
Oh, …begitu remehnya perempuan dimata public. Begitu lemahnya suara perempuan dimata kekuasaan. Kita selamanya akan dipandang lemah oleh dunia, jika tidak punya kedudukan. Itulah realita masyarakat kita. Hingga benar jadi salah, dan batil dianggap hak.
Sedangkan kita adalah seorng muslimah. Akankah kita melangkah? Jalan mana yang akan kita pilih? Kemana kita akan melangkah. Separuh hidupku telah berlalu…
Sejujurnya aku sangat rindu, duduk dipinggir tegalan sambil mengisap tebu. Atau berselasar di alam bebas beralskan padang rumput. Seperti dulu. Aku sangat rindu menjadi ika wulandari yang bebas berkarib dengan alam. Udara segar itu serasa sayapku. Langit biru lazuardi itu seperti setitik cahaya tujuanku. Kapan kita bisa bersama-sama, menjadi anak desa seperti dulu lagi? Begitu banyaknya batasan-batasan yang kurang mutu dibuat oleh manusia. Bukan kah tidak selamanya kebebasan itu memalukan, atau melanggar aturan?
Sahabat, … jika ada waktu senggang, pergilah bersama karib-karibmu, dan tunaikanlah fitrah dalam dirimu… tenang menikmati indahnya alam…
Oh ya, agak menyesal kenapa dirimu tidak foto denganku waktu nikah. Aku minta maaf. Seharusnya lia yang mengajakmu. Aku tidak bisa berfikir jauh selain mengikuti prosesi acara. Maafkan aku ya…
Saudara sepupuku iri padamu, karena kita terlihat lebih dekat dan akrab. Sudah dapat souvenir dariku belum? Kalau belum, insyaallah kubuatkan lagi. Kpan main kejogja? Nanti mampir ke kontrakanku. Salam buat ibu ya. Aku suka senyumnya, juga masakannya. Sekarang aku mumet latihan masak. Udah ya cempluk! Kapan-kapan disambung lagi. -Putri Intan-
From: ika wulandari
Pemberitahuan, kepada saudara Peno dan Titik….
Untuk mencegah pemborosan negara, mengurangi polusi, dan mencegah hutan menjadi gundul, diputuskan untuk menggunakan kertas bekas pakai untuk menulis surat atau hal-hal yang tidak membutuhkan aturan lainnya. Akibat pohon ditebangi baik resmi ataupun iolegal untuk dibuat kertas, jadinya begini, masa depan anak cucu kita… mereka terancam tidak bisa melihat pohon lagi di jamannya. Untuk itu mulai sekarang, mari kita bangkitkan kembali semangat pengabdian kepada tanah air tercinta, untuk ngirit sengirit ngiritnya, dan berbuat baik sebanyak-banyaknya. Di pundak kita negeri ini bertengger. Di genggaman Allah SWT segala nilai dan peraturan yang benar-benar hak.
Mari bangkit saudaraku! Anak-anak kita butuh makan, ilmu, dan yang tidak kalah penting adalah “keteladanan”. Mari mengasah kepekaan hati, agar bisa memilah-milah manakah peraturan yang harus kita taati, dan manakah yang harus kita langgar atau bahkan kita ubah suatu hari nanti.
trima kasih atas pershabatannya.
Salam dari suamiku tersayang untuk kalian berdua.
Cepet nikah ya, semoga yang terbaik bagi kalian. Jodoh di tangan Allah SWT, luruskan niat, raihlah beban yang lebih berat dri sebelumnya. Karena, semakin berat semakin terasa artinya hidup, artinya ringan yang sesungguhnya.
Wasalmualaikum Warohmatulloh wabaroktuh.