Rabu, 26 Desember 2007

Bagai Pinang Dibelah Dua

Bagai pinang dibelah dua demikian sebutan buat dua orang yang sama rupanya. Jika memang dari rahim yang sama dikenal sebagai saudara kembar. Tapi anehnya antara kesedihan dan kesenangan oleh Gede Prama disebut saudara kembar. Penjelasan gede prama yang panjang lebar mirip dengan cerita dua pedagang peyem Aa Gym.

Memang ditempat kelahiran Aa Gym ini kaya akan makanan busuk dari singkong tersebut. Ceritanya dua pedagang peyem Asep dan Usep pergi ke pasar dari rumahnya. Mereka berdua memang tetangga dekat, rumahnya saling berhadapan dan dagang peyem merupakan pekerjaan sehari-hari mereka. Untuk mencapai pasar mereka harus melewati sawah dan menyebrang sungai dengan memikul dua keranjang peyemnya.

Sial bagi Asep ketika menyebrang sungai dia tiba-tiba terpeleset. Beribu-ribu hewan keluar dari mulut Asep ketika itu. Anjing, Bajing, Monyet dan hewan-hewan lainnya berulangkali terucap dari mulutnya sebagai tanda kesal. Sedangkan Si usep selamat sampai di seberang. Urunglah si Asep kepasar dan Useppun naik angkutan langganannya.

Sampai dirumah si Asep terus menerus mengguman. Didalam batinnya dia berteriak “Allah kenapa semua ini tertimpa padaku, bukankah kau tahu sebulan lagi kebutuhanku banyak karena mau menikah sedangkan si Usep kehidupannya sudah cukup mewah mengapa selalu saja aku yang celaka” memang si Asep ini beberapa kali jatuh entah di sawah atau sungai sehingga dia banyak merugi. Sebulan lagi dia berencana melaksanakan pernikahannya dengan seorang gadis yang super solehah dan berbakti pada orag tua. Diapun akhirnya hanya pergi ke hutan mencari kayu bakar.
Dua ikatan besar kayu hutanpun terkumpul oleh Asep. Diapun beranjak pulang dan sempat mandi disungai dekat hutan. Selesai mandi diapun bergegas cepat-cepat pulang. Tak seperti biasa, jalan didesanya kelihatan sunyi ” jam-jam segini biasanya banyak yang pergi mencari rumput tapi kok tidak ada orang ya” pikir Asep.

Sesampainya di gang rumahnya dia melihat banyak orang berkerumun didepan rumahnya. Diapun mempercepat langkah ingin tahu ada apa gerangan disana. Malang Usep yang pagi tadi bersamanya kini telah meninggal dunia karena angkutan yang ditumpanginya masuk ke jurang sedalam 50 m. tak ada yang selamat dalam angkutan tersebut. Selain Usep dia juga mengenal Dayat, Yayat, Rasid yang biasanya satu angkutan dengannya.

Innalilahi dicampur dengan Alhamdulillah bercampur didalam hatinya. “Untung saja saya tadi jatuh disungai, kalau tidak mungkin sebulan lagi Aisyah menikah dengan laki-laki lain”

Demikianlah si kembar. Satu realita ternyata terdapat dua persepsi. Asep jatuh bisa menjadi kesialan atau keberuntungan, rasa kecewa atau rasa bahagia, rasa senang atau gembira. Semua hanya perasaan saja. “Pilih yang mana?” begitu Aa Gym mengakhiri ceritanya. Semua yang hadir langsung menjawab serentak “bersyukur”.

Membangun rumah tangga adalah realita. Menyukuri sebuah pernikahan terasa lebih enak dibandingkan memendam rasa kecewa. Karena manusia tidak tahu kelak akan seperti apa. Menyedihkan atau menyenangkan sebenarnya realitanya sama yaitu menikah.

Bagai Samudera

Anak kurang ajar, lugu (lutung gunung), jelek, gendut, manja atau perkataanku yang jelek lainnya banyak yag terlontar untuknya. Semua dia lahap tapi bukanlah kejelekan yang Nampak keindahan yang luar biasa. Samudera demikian aku menyebutnya.

Samudera mempunyai sifat menerima apapun yang diberikan kepadanya. Dia terima tinja manusia yang terbawa arus sungai, ia terima pula tanah dari sungai apapun yang dari sungai ia terima. Bahkan sekarang dia juga tak keberatan dibuangi minyak dari kapal-kapal diatasnya.

Indahnya lagi dia mampu mengolahnya menjadi indah dan berguna semua limbah. Ketika ada tinja datang diberikannya kepada ikan. Ketika tanah masuk dalam lautan dijadikannya sebagai garam.

Demikianlah Ika Wulandari dia mampu mengolah semua ejekanku sebagai bahan yang memperindah dan mempererat tali persahabatan. Semoga tali persahabatan diantara kita kian erat walau kini jari manismu telah terpasung oleh cincin itu.

Bagai Rembulan

Melihat sosok wanita yang benar-benar ceria terasa mata ini ingin selalu memandangnya. Begitulah pertama kali aku kenal dengan Ika Wulandari yang memperkenalkan diri sebagai Arin.Setelah jauh mengenal wanita ini aku kagum padanya. Cocok dia sebagai symbol yang diungkapkan oleh Achmad Chodjim sebagai jelmaan matahari. Karena di yunani tidak ada dewi matahari maka aku menyebutnya sebagai rembulan. Rembulan memantulkan sinar matahari.

Ciri matahari pertama disiplin, muncul dipagi hari diufuk timur dan hilang disore hari diufuk barat. Tak pernah sekalipun matahari muncul dari ufuk barat atau tenggelam diufuk timur. Waktunyapun tepat sehingga dulu matahari digunakan sebagai anutan dalam membuat jam.

Tanpa pamrih sebagai ciri keduanya, matahari selalu menyinari bumi walau keadaan seperti apapun, ia hanya berhenti paling lama 5 menit disaat gerhana total itupun sebenarnya dia juga bersinar hanya saja tertutup oleh bulan. Matahari sering dimaki-maki petani dan pejaan kaki karena mereka kepanasan dibuatnya. Tapi dia tetap saja bersinar dan teguh pada pendiriannya. Dia tetap saja bersinar walua dapat cercaan atau pujian. Kerjanyapun sama. Demikian ikhlasnya dia menjalankan tugas tersebut.

Adil cirri ketiganya. Matahari menyinari semua yang ada dibumi, baik itu orang jahat atau baik, kaya atau miskin, tua atau muda, pejabat atau rakyat jelata. Semua mendapat sinar matahari.

Begitulah aku kenal dengan Ika Wulandari sebagai sosok matahari. Sosok yang tak kenal disiplin tak kenal lelah, tak kenal pamrih, dan menyinari semua orang. Dia tidak pandang bulu siapa yang ditolongnya. Bahkan tidak jarang dia terkena tipu karena keibaannya pada seorang gadis yang mengaku kehilangan segalanya. Dia merelakan semuanya demi menolong orang dan kebaikan.

Aku mengagumimu wahai kekasihku. Wulan………

Burung Terbang

Hari telah sore, petani dengan asyik ke sawah untuk melihat jagungnya yang mulai menua. Satu atau dua minggu lagi masa panen tiba. Di saat inilah jagung muda banyak dibakar karena rasanya gurih dan manis. Dimusim seperti ini selain jagung, anak-anak biasanya tiap sore melihat ke atas langit. Ada hiburan tersendiri di sana. Bukan bintang atau bulan tetapi burung-burung berterbangan. Burung Terik begitu orang kampung memberikan nama pada ribuan burung yang selalu datang pada musim jagung. Mereka terbang dari arah timur ke barat. Demikianlah salah seorang warga Kabupaten Sragen menceritakan musim jagung.

Sayang sekarang burung Terik lenyap entah kemana tak bermigrasi lagi. Apakah ini membuktikan teori yang menyaatakan bahwa manusia dahulu selalu bermigrasi dan burung tersebut sekarang sudah bisa bertani. Mengenaskan lagi jika burung tersebut punah karena kerusakan lingkungan yang sekarang sedang terjadi. Sayang jika burung tersebut memang benar-benar punah. Ribuan burung yang secara bersama-sama terbang selain indah juga penuh makna. Bukan saja keindahanya yang hilang tapi makna dari burung terbang juga sulit digambarkan atau dibuktikan.

Untung saja masih ada walaupun jauh melihat burung bermigrasi. Jika ingin melihat burung terbang secara berkelompok bermigrasi, di Eropa, Amerika atau di Afrika masih ada cerita burung bermigrasi. Atau lebih enak kita melihat segerombolan burung pipit yang terbang disawah. Akan nampaklah keindahan burung yang terbang bersama-sama.

Burung yang sosialis secara insting mampu bekerjasama, bahu membahu mencapai tujuan tertentu. Burung jika pisah dari rombongan pastilah dia tidak akan mencapai tujuan bahkan mungkin terkapar mati dan dimangsa musang atau elang. Bentuk kerjasama mereka adalah formasi terbang dan kepakannya.

Burung yang berkelompok mengepak secara bersama-sama, kompak agar angin yang ditimbulkan dari kepakan tersebut lebih kuat. Kedua burung juga membentuk suatu formasi tertentu. Atau seorang motivator menyebut sebagai formasi “V”. dengan formasi inilah burung dapat lebih ringan jika terbang bersama-sama.

Formasi V merupakan bentuk seperti anak panah atau sekarang yang sering kita lihat adalah sayap pesawat. Hal ini membuktikan bahwa burung terbang sudah menggunakan teknologi yang tinggi dengan kerjasamanya yang tertata rapi.

Sayap pesawat jika dilihat meniru formasi burung tersebut. Architek pesawat pasti telah memperhitungkan keuntungan dengan formasi tersebut. Formasi huruf V membuat udara mendorong dari belakang. Dengan dorongan ini maka terbang akan terasa lebih ringan dan cepat. Mobil F1 pun sekarang meniru formasi V tersebut.

Jumat, 21 Desember 2007

Hadiahku: Kenangan Terakhir bersama Arin

Hadiahku: Kenangan Terakhir bersama Arin

Suami dan Istri

Wahai isteriku,
Maafkan aku tidak menemanimu
Di saat engkau menimang kucingmu
Bukannya aku tak cinta padamu
Aku hanya berusaha untuk tetap sehat
Agar kelak bisa menjagamu
Ketika mungkin engkau merasakan sakit akibat kucing itu
(19 Oktober)
Wahai suamiku,
Maafkan aku tidak bisa menemanimu
Di waktu engkau sulut tembakau itu
Bukannya aku tak cinta padamu.
Aku akan berusaha agar tak mengirup asap itu
Agar kelak bisa menjagamu
Disaat kau sakit karena kebiasaanmu itu
(20 oktober)

Dalam pengajian sebuah pesta pernikahan shahabatku. Diah Anitasari, seorang yang cantik dan enak bila diajak ngobrol ini adalah salah satu korban bencana alam di daerah bantul. Memang rumahnya tidak separah rumah-rumah disekitarnya. Mungkin karena mantu sehingga rumah tersebut lekas diperbaiki, buktinya atap masih terbuat dari asbes, bukan gentheng yang biasa dipakai sebagai atap rumah-rumah di Bantul.

Dalam suasana pernikahan yang sederhana tapi penuh canda dan tawa itu aku datang agak terlambat sehingga hanya sepenggal ilmu yang kudapat dari pengajian. Pengajian diisi oleh kyai entah dari seberang mana asalnya yang jelas beliau pinter nembang sehingga masyarakat desa sangat antusias medengarkannya apalagi diselingi dengan humor-humor orang dewasa. Wah jadi rame dan asyik apabila disana.

Kyai berpesan kepada pengantin untuk melaksanakan tugas sebagai suami istri sebaik-baiknya. Beliau mempunyai definisi tugas SUAMI sebagai sebuah akronimnya yang berasal dari Sanggup, Ulet, Asih, Mandiri dan Iman/Ihsan. Sebagai seorang suami maka dia harus mampu dan mau untuk mencari nafkah buat keluarganya. Dalam mencari nafkah harus ulet jangan pantang menyerah sampai mendapatkan rezeki yang diridloinya. Aneng seh inilah tugas suami selanjutnya yaitu memberi kasih saying kepada keluarganya. Banyak keluarga hancur karena seorang suami mencari rezeki melupakan istri dan anaknya. Mereka butuh perhatian dan pendidikan dari figur seorang ayah. Mandiri, seseorang yang telah memutuskan untuk menikah bukan berarti orang yang telah kaya raya tapi dialah yang tidak mau tergantung kepada orang lain misalnya mertua. Dan iman inilah tujuan utama menjadi seorang suami yaitu selalu mendekatkan diri pada Allah, selalu mengingatnya bukan melupakannya,
Begitu pula ISTRI, berasal dari sebuah akronim yang menunjukkan tugas-tugasnya yaitu Ikhlas, Sabar, Taat, Ramah dan Iman. Sebagai seorang istri harus ikhla berapapun kesanggupan suami menerima rezeki yang diberikan oleh Allah. Kemudian istri harusnya sabar karena istri mempunyai tingkat kesabaran yang lebih tinggi. Istri juga harus taat kepada suami sebagai pemimpinnya. Istri yang ramah akan membuat suami merasa tenang untuk meninggalkannya bekerja. Dalam hal ini pernah ada petuah untuk seorang istri yaitu harus ramah di kamar tamu, ghairah di kamar tidur dan ngirit di dapur. Jangan sampai terbolak balik karena akan merusak keharmonisan rumah tangga.

Entah dari mana aku pernah mendapatkan puisi cantik di atas itu. Sangat menyentuh hati ketika seorang suami digugat oleh sang istri dia membuat sebuah puisi yang indah itu. Setelah itu urunglah perceraian keluarga tersebut. Oleh karena itu aku menuliskan dalam versi yang agak berbeda puisi tersebut.

Cinta sejati merupakan cinta yang sangat unik. Entah apa membuat ketenangan jiwa selalu aja ada. Ini bisa terjadi karena saling memahami antara suami dan isteri. Seorang suami bahagia bukan karena dia mendapatkan isteri yang cantik, begitu pula seorang isteri bahagia bukan karena mendapatkan suami yang ganteng. Akan tetapi, isteri yang mampu memahami dan berusaha memperbaiki sifat-sifat buruk pada suaminya, suami yang selalu berusaha memahami apa-apa yang dilakukan oleh isterinya.

Saling memahami adalah hal yang timbul bukan karena kebaikan seseorang, tetapi malah datang dari keburukannya. Oleh karena saling memahami itulah antara suami dan isteri bisa jujur dan ikhlas dalam menjalani hidup ini. Dengan saling memahami inilah semua bisa berubah dari sebuah keburukan menjadi kebaikan. Dan inilah yang membuat kelurga tetap utuh walau dirundung masa.

Memang secara teori saling memahami adalah hal yang sangat mudah untuk dijalankan. Tetapi dalam tataran praktis terdapat yang namanya beda pendapat antara suami istri maupun keluarga. Hal inilah yang sulit untuk menciptakan sebuah saling pemahaman antara keduanya. Bukan hanya pitam yang naik tetapi juga gelas,piring atau vas bunga naik, turun kemudian hancur dibantingnya. Bagaimanapun sikap yang baik untuk menghadapi perbedaan pendapat adalah tidak berebut kebenaran, karena hanya satu, kebenaran tak mungkin diperebutkan. Kebenaran harusnya dicari bersama-sama karena komitmen pernikahan adalah untuk menjadi pasangan pencari kebenaran. Janganlah berebut kebenaran.

Pernikahan

Nafsu birahi adalah bagian yang paling sulit untuk dikendalikan dan kerap mengajak pelakunya untuk mencari-cari peluang dalam menyalurkannya. Bila tidak didapati sesuatu yang memuaskannya, maka ia (manusia) akan dihantui perasaan gundah gulana atau gelisah, hingga menimbulkan goncangan jiwa, yang kemudian menyebabkannya jatuh dalam perbuatan jahat. Pernikahan adalah salah satu sarana alamiah yang cukup baik dan cocok untuk memberikan kepuasan nafsu birahi manusia, hingga dapat membuat jiwa menjadi tenang, pandangan aman dan perasaan damai. Dengan semua yang dihalalkan oleh Allah SWT. Demikian sedikit pendapat yang diungkapkan oleh Abdul Mutholib Hammad Utsman yang dibubuhkan dalam sebuah Hikmah pernikahan yang terdapat dalam buku Kisah Unik Malam Pertama.

Pendapat tersebut memang ada yang benar tetapi tidak berlaku untuk semua orang. Ketenangan jiwa kadang didapatkan oleh biksu-biksu dalam agama hindu atau budha tanpa menjalani pernikahan. Mereka mampu mengendalikan hawa nafsu dengan menruti apa yang dinamakan dengan vegetarian dan ucapan-ucapan yang mirip dzikir dalam islam. Dalam agama islampun ada hadist yang menyatakan bahwa apabila belum mampu menikah disarankan untuk menjalankan puasa. Jika kita lihat biksu melaksanakan puasa dengan vegetarian sedangkan dalam islam melaksanakan puasa dengan aturan tidak makan dan minum di waktu siang hari.

Pernikahan juga dilakukan oleh seseorang dengan dasar cinta. Cinta yang mereka rasakan antar jenis kelamin membuat orang melaksanakan acara pernikahan. Tetapi tidak semua pernikahan pada mulanya didasarkan dengan cinta. Atau tidak semua pernikahan atas dasar cinta akan bahagia. Oleh sebab itulah cinta bukanlah penyebab mutlak terjadinya pernikahan. Banyak kehidupan rumah tangga yang hancur lebur walaupun cinta antar suami istri masih ada.

Aku juga bingung apakah yang menyebabkan sebuah pernikahan. Belum ada sedikitpun sebuah petunjuk apa penyebab suatu pernikahan. Jadi pernikahan merupakan sebuah misteri layaknya kelahiran maupun kematian. Misteri-misteri ini sulit untuk dilihat atau digunakan sebagai sebuah makna. Di dalam al Qur’an sendiri terdapat beberapa misteri tentang makna sebuah kata misalnya Alif lam min tidak ada kamus setebal apapun yang menjelaskan arti kata tersebut. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa pernikahan merupakan misteri Illahiyah. Bisa pula dikatakan takdir.

Padahal pernikahan banyak sekali direncanakan. Seperti pernikahan yang direncanakan 16 november 2006 tersebut. Perencanaan sudah dilakukan 6 bulan bahkan 6 tahun yang lalu. Kenapa disebut sebagai misteri? Sebelum akad nikah dikumandangkan oleh kedua mempelai dan para saksi mengatakan syah kemungkinan apapun masih saja bisa terjadi. Karena pernikahan adalah misteri. Karena misteri inilah makanya orang tidak akan sembarangan untuk merencanakan sebuah perhelatan pernikahan. Mereka selalu bertanya-tanya kepada siapapun yang lebih mengerti tentang pernikahan. Itulah tugas manusia menghadapi sebuah misteri tidak boleh menyerah.

Cinta : Sebuah Cahaya Illahiyah



Aku datang dengan cinta
Aku akan selalu mencintaimu
Tak ada orang lain dihatiku

Cinta adalah sumber kreativitas
Cinta kadang membungkam kreativitas

Cinta adalah sumber kebenaran
Kadang cinta mengingkari kebenaran

Cinta membuat manusia hidup semangatnya
Kadang cinta jugalah yang mematikan hidupnya

Cinta adalah anugerah Yang Esa
Tapi Kadang dia tertutup hijab yang tebal
Nampaklah hanya Hijabnya saja
Kadang hijabnya menimbulkan kebaikan
Dan tak jarang menimbulkan keburukan
Cinta sejati hanya dibelakang hijabnya
Itulah cinta abadi

A. Cinta atau Nafsu
Pertama kali saya berkunjung ke rumah pak Sumarno aku langsung disuguhi oleh sebuah dialog yang hangat tentang cinta. Dosen matematika tersebut mempunyai sebuah penjelasan yang aneh. Dia melihat dengan asal penciptaan malaikat dan setan. Setan diciptakan dari api sedangkan malaikat diciptakan dari cahaya. Kemudian beliau dengan bertanya ”cahaya apa yang tidak berasal dari api ?” Seolah tidak bertanya dia menjawab sendiri ”semua cahaya berasal dari api”. Cahaya matahari misalnya berasal dari api proses fisi dan fusi matahari. Cahaya bulan juga berasal dari matahari. Cahaya lampu berasal dari percikan api listrik (dalam ilmu listrik karena hubungan pendek atau konsleting). Apa maknanya? Semua kebaikan pasti ada sumbernya (setidaknya pembandingannya) yaitu kejahatan. Kebaikan adalah sebuah sisi lain dari kejahatan, bagaikan kedua sisi uang logam tidak dapat dipisahkan.

Apa hubungannya dengan cinta dan nafsu. Cinta ibarat cahaya sedangkan nafsu sebagai apinya (setan). Ciri cahaya selalu memberi penerangan kepada orang, sedangkan api selalu membakar siapapun yang mendekatinya. Cinta kita bagaikan cahaya. Cinta akan menjadi penerang saat orang yang kita cintai berjalan ditengah kegelapan. Perasaan cintalah akan membuat orang yang mencintai mempunyai cita-cita, visi, misi dan tujuan agar orang yang dicintainya bahagia baik dunia maupun akhirat. Sedangkan nafsu merupakan api yang ingin membakar orang yang dicintainya. Sifat api adalah merusak tetapi api yang dapat dikendalikan akan menjadi sebuah sumber cahaya. Contohnya lampu yang apinya dibungkus yang kelihatan adalah sebuah cahaya yang dapat menerangi manusia disaat kegelapan malam tiba. Di dalam budaya masyarakat kita pengandalian tersebut diaplikasikan salah satunya dengan pernikahan.

B. Cinta adalah cahaya
Cinta dalam bahasa arab disebut dengan Al Hubb, mempunyai padanan kata al qurt yang artinya anting-anting, karena anting-anting yang selalu bergerak-gerak, bergetar-getar ditelinga orang yang memakainya. Demikian pula orang yang sedang bercinta hatinya selalu bergucang-guncang dan bergetar, kadang merasa khawatir, tak merasa tentram, hatinya ingin bergejolak ingin selalu berada disamping kekasihnya. Ada lagi al hubb berasal dari kata al hubriyyah yang berarti gayung besar atau tong besar. Gayung atau tong besar akan penuh apabila disi air demikian juga dengan hati apabila diisi dengan cinta akan penuh sesak. Demikianlah sebuah analisis yang disampaikan sepasang suami isteri Naszhif Masykur dan Evi Ni’matuzzakiyah (2005) dalam bukunya yang berjudul Cinta Kita Beda ditambah tanda seru 2.

Memang perasaan kita akan bergetar-getar jika sedang dilanda cinta. Perasaan itu pasti dialami pula saat kita sedang melakukan perbuatan jahat dan takut diketahui oleh orang lain. Maka Naszhif Maskur dan isterinya menyatakan orang akan cemas, khawatir dan dadanya penuh sesak. Pengertian tersebut masih terlalu subyektif karena cinta mengarah pada perbuatan jahat (api=setan), bukannya perbuatan baik (cahaya=malaikat). Bisa dimaklumi karena dalam buku tersebut diterbitkan untuk melarang pacaran yang sedang gencar-gencarnya dikampanyekan di Jogja setelah hasil penelitian Iip Wijayanto menyatakan bahwa lebih dari 97% mahasiswa Jogja sudah tidak perawan.

Robi’ah (2004) mempunyai pandangan lain tentang cinta. Penulis buku Kenapa Harus Pacaran tersebut memaparkan penelitian seorang antropolog bernama Helen Fischer. Penelitian tersebut menyatakan bahwa cinta manusia dipengaruhi hormon yang berada diotak. Dan sayangnya hormon tersebut hanya bertahan hingga empat tahun setelah mengenal bertemu dengan orang yang dicintainya. Oleh karena itu teori Fischer tersebut disebut dengan Four Years Itch. Oleh karena itu, jika sudah pacaran 3 tahun maka gelora cinta tinggal 1 tahun lagi setelah menikah.

Hal tersebut dibantah oleh Shodiq (2004) dengan apa yang dialami oleh Aisyah. Si pipi merah jambu tersebut merasakan perasaan cemburu tak lain dan tak bukan untuk istri tertua nabi Muhammad yang telah meninggal. Bukan pada isteri-isteri lainnya yang masih hidup. Berarti cinta nabi Muhammad tidak hanya empat tahun. Jika teori four year its tersebut benar maka tingkat perceraian pada pernikahan tinggi tapi nyatanya tidak. Alasan perceraianpun tidak menyataan sudah tidak cinta lagi tetapi karena perbedaan prinsip, ada orang ketiga, keluarga dan kemandulan.

Dalam sebuah adegan film terdapat pernyataan yang sangat menyentuh jiwa tentang cinta. Semua makhluk di dunia ini diberi insting untuk mempertahankan diri. Harimau punya cakar, ular punya bisa dan manusia..... Manusia punya cinta. Dengan cintai kita bisa bertahan dikedinginan malam saat hujan. Cinta sekarang menjadi senjata yang melebihi pedang. Saya setuju dengan pernyataan bahwa lidah lebih tajam dari pada pedang, dan ditambah cinta yang akan memenangkan peperangan dari pasukan pedang. Bayangkan Rosulullah setiap pergi ke masjid ada saja yang melempari dengan kotoran. Suatu ketika ada yang aneh saat dia bergi ke masjid tiada orang yang melempari. Usut punya usut ternyata orang yang biasanya melempari tersebut sakit. Setelah tahu rosul yang merasa cinta dan kangen dengan berkah lemparan kotoran tersebut berkunjung ke rumah ikut prihatin karena sakit sambil membawa makanan untuknya. Itulah salah satu dakwah islam dengan cinta, walaupun orang lain membenci kita.

C. Cahaya Illahiah
Apabila gunung bisa melihat Allah dia langsung meletus karena kedasyatannya. Allah adalah zat yang Ghoib. Karena ghoib maka tidak dapat dilihat hanya bisa dirasakan. Orang-orang budha menyembah tuhannya melalui patung-patung batara atau di jepang disebut alvatar yang artinya perantara. Orang islampun demikian dia membaca ayat-ayat Allah sebagai perantara. Demikian mereka mempunyai pengertian tentang Tuhan. Tetapi ada yang menarik dari cahaya Illahiyah. Mengapa disebut cahaya? Apakah Allah bagaikan cahaya? Mari kita kaji dengan akal kita pemberian Allah SWT untuk mengenal dan membuka hijabnya.

Merasakan kehadiran Allah oleh beberapa murid persilatan melalui olah pernafasan. Setiap nafas yang bergerak yang menggerakkan adalah Allah. Hal ini ibarat dedaunan yang tertiup oleh angin, mata bisa memandang daun-daun yang menari tetapi tak dapat melihat anginnya. Dengan merasakan kehadiran Allah yang menggerakkan sistem pernafasan tersebut hati akan bergetar. Sebenarnya Allah hadir tidak hanya melalui pernafasan tetapi juga melalui apa aja yang bisa kita rasakan melalui rasa sukur dan membuat diri kita seolah-olah tidak ada dibandingkan Dia. Orang-orang sufi menyatakan kita dalam keadaan zero mind

Ciri orang yang beriman salah satunya apabila disebutkan Asma Allah hatinya bergetar. Tetapi berdasarkan Zohar (2004) setiap ada getaran jiwa fosphor dalam otak spiritual akan aktif dan kelihatan bercahaya. Aktifnya fosfor tersebut akan menggetarkan hati manusia. Apakah cahaya illahiyah tersebut adalah cahaya yang dihasilkan oleh fosfor tersebut, huwallahualam. Para sufi yang menyatakan telah membuka hijab illahi, cahaya yang dimaksudkan bukan cahaya yang tampak oleh mata tetapi cahaya yang tampak oleh hati. Karena mereka membagi penglihatan menjadi 3 yaitu penglihatan fisik, penglihatan akal dan penglihatan hati. Tetapi menurut asumsi saya, penglihatan hati ini terasa dalam bentuk getaran jiwa.

Bergetarnya hati tidak hanya karena kita sedang melaksanakan kebaikan melalui dzikir merasakan kehadiran Allah disisi kita. Tetapi juga karena kehadiran makhluk-makhluk lain selain Allah misalnya jin dan setan. Sering kita mendengar cerita hantu akan merasa bergetar hati ini. Sering pula apabila ketemu pemuda tampan atau wanita yang cantik, hati kita juga bergetar. Masalahnya manakah yang disebut dengan cahaya illahiyah?

Perlulah kita melatih penglihatan hati dengan berbagai perbuatan. Jika kita berbuat dosa apa yang dirasakan oleh hati dan apabila kita berbuat kebaikan apa yang dirasakan oleh hati. Dengan terus menerus latihan, kita akan mengenal ini adalah perbuatan yang dituntun oleh Allah dan perbuatan itu yang dituntun oleh setan. Beberapa orang yang menjadi paranormal menyatakan bahwa apabila dia mendapatkan sebuah ilham bukan dari penglihatan mata tetapi melalui getaran hati. Semoga saja yang saya tuliskan lebih mendekatkan siapapun yang membaca kepada Allah yang memberikan berbagai cahaya bagi kita.

D. Cinta sebagai cahaya Illahiyah
Cinta dan nafsu sulit sekali dibedakan karena keduanya merupakan satu kesatuan layaknya dua sisi mata uang. Tetapi cinta dapat menjadikan orang sangat bahagia sedangkan nafsu membuat orang sengsara. Keduanya kadang muncul beriringan, mulanya cinta kemudian nafsu timbul atau sebaliknya mulanya nafsu tetapi akhirnya menjadi cinta. Munculnya kedua sifat tersebut sama-sama dengan getaran hati. Getaran tersebut muncul karena hormon seperti yang diungkapkan oleh Helen Fischer. Hormon itulah hasil sebuah pembakaran setiap ada pembakaran ada api dan setiap ada api pasti ada cahaya.

Apabila proses pembakaran dekat dengan hati akan terasa panas dan itulah nafsu. Dan apabila proses pembakaran jauh dari hati dan hati hanya dapat cahayanya saja itulah cinta. Cinta bisa dirasakan lewat getaran dengan frekuensi tertentu. Sebagian besar orang menyintai ibu atau bapaknya, rasakanlah getaran hati yang diakibatkan oleh cinta kita terhadap ibu kita.
Dengan membedakan frekuensi getaran hati (Qolb bukan lever) manusia akan selalu tahu mana perbuatan yang baik dan manakah perbuatan yang jahat. Dengan demikian maka semua perbuatan kita kita jalankan untuk kebaikan agar selalu mendapat petunjuk dari Allah. Hati bisa jadi mati, atau sakit. Ciri hati mati adalah hati yang getarannya sudah terbalik. Perbuatan yang ia jalankan adalah perbuatan yang buruk tetapi frekuensi yang muncul adalah frekuensi kebaikan. Hati yang sakit merupakan hati yang apabila kita berbuat baik frekuensi getaran muncul dengan sangat rendah sehingga hampir tidak terasa, sedangkan frekuensi keburukan sangat terasa oleh tubuh kita.

Pembeda antara cinta dengan nafsu sebenarnya ada pada diri kita sendiri. Yaitu melalui cahaya illahi yang dimanifestasikan melalui sebuah getaran hati. Getaran tersebut apabila kita sadari dapat membimbing kita ke jalan yang yang dicintai. Jalan itulah yang membuat kita semua bahagia baik di dunia maupun diakhirat. Getaran hati bisa muncul apabila hati sedang tidak sakit atau mati maka jagalah hati, jangan nodai.

Menikah : Salah Satu Proses Menjadi Manusia


”Menikahlah engkau sebenarnya dengan menikah engkau telah melaksanakan setengah dari agamamu”

”Aku turunkan pemimpin dimuka bumi”

Ini merupakan tulisan yang telah saya edit dari sebuah tulisan saya sendiri tentang hakikat manusia. Mengapa kita disuruh menikah? Yah pertanyaan tersebutlah yang membuat saya menemukan jawaban yang belum tentu benar tetapi bisa dijadikan satu referensi (dasar pemikiran) untuk memutuskan suatu pernikahan. Belum tentu benar karena cara pandang tulisan ini berbeda yaitu memandang bahwa menikah adalah salah satu tugas yang dijalankan oleh manusia. Tugas atau perintah tersebut selain tertulis dalan tektual, terekam dalam indera, juga dapat kita rasakan dalam diri kita melalui cahaya ilahiyah.

Tertera dalam tulisan apabila kita melihat perintah tersebut dari Al-Kitab, Al Huda, Al Bayyan yang terdapat dalam Muhyaff Al Qur’an. Dengan berdasarkan tulisan tersebut kita akan mengetahui apa yang diperintahkan dan apa yang dilarang. Apabila kita mendasarkan haya pada tulisan , layaknya sebuah undang-undang. Yaitu adanya hak dan kewajiban seseorang apabila seseornag berbuat melanggar peraturan akan dihukum dan sebaliknya apabila dia berbuat sesuai kewajibannya diberikanlah haknya. Sayang tulisan tersebut harus kita hafal apalagi kala teks tersebut dalam bahasa lain, tidak Cuma dihafal juga harus diterjemahkan dan dihafalkan terjemahannya.

Cara pandang kedua melengkapi kekurangan-kekurangan yang ada pada tekstertulis. Cara pandang ini berlaku untuk sebuah pemahaman dari apa yang kita lihat dari lingkungan sekitar. Alam sekitar kita sebenarnya merupakan ayat-ayat ilahiah yang tampak mata (ayat kauniah). Ayat-ayat ini juga menunjukkan bagaimana seharusnya kita bertindak. Akan tetapi kita harus pandai-pandai menerjemahkan bahasanya dengan pemahaman kita. Sering sekali dengan pemahaman inilah kita terjerumus pada kesesatan untuk itu perlu adanya sebuah petunjuk lagi yang dinamakan cahaya ilahiyah.

Cahaya ilahiyah selalu benar menerangi kita menuju kebaikan dan membimbing kita agar berjalan kejalan yang lurus. Seperti yang kita ucapkan berkali-kali dalam sholat. Tunjukanlah aku jalan yang lurus! Amin. Jalan yang lurus adalah jalan yang paling efektif menuju tujuan. Misalnya kita dari solo ingin ke Bogor, jalan yang benar banyak bisa lewat bandung tetapi jalan yang paling lurus hanya satu. Itulah jalan yang efektif yaitu jalan yang diberi cahaya oleh Allah.

Dengan sedikit uraian terseut marilah kita bahas mengapa kita menikah. Menikah sering sekali digunakan manusia untuk memuaskan nafsu belaka. Mereka tidak memandang perintah tersebut dengan pemahaman ayat kauniah dan cahaya ilahiayah. Itulah sebabnya banyak sekali kasus-kasus dalam rumah tangga. Untuk itu saya menyarankan sebuah ayat-ayat kauniah pernikahan karena saya belum begitu menghafal ayat-ayat tertulisnya.

Tugas manusia

Manusia sebagai makluk hidup layaknya mahluk hidup lainnya dalam melaksanakan tugas. Apa yang dipelajari dalam bidang biologi di sekolah menengah dahulu kita gunakan untuk mencari tugas manusia. Sebagaimana dijelaskan oleh guru biologi makhluk hidup mempunyai ciri memerlukan makanan. Makanan merupakan materi pokok agar bisa mempertahankan hidup. Tumbuh-tumbuhan perlu air dan mineral, hewan ada yang butuh rerumputan ada juga yang membutuhkan daging. Semuanya membutuhkan makanan dan semua berusaha mencari sumber makanan tersebut. Hal inilah yang menjadi tugas makhluk hidup yaitu mencari makanan.

Sebuah pohon yang kelihatannya diam, tanpa bergerak (kecuali apabila tertiup angin), jika diteliti mempunyai perjuangan keras dalam mendapatkan makanan. Pohon-pohon tersebut menggali tanah-tanah melalui akarnya dan tak jarang batupun bisa dipecahkannya untuk mendapatkan makanan. Batang yang besarnya satu depa tanganpun digerakkannya perlahan-lahan sekali agar daun-daun mendapatkan sinar untuk memasak makanan yang didapatkan dari tanah. Betapa beratnya tumbuh-tmbuhan bekerja untuk mendapatkan makanan.

Selain proses mencari makan tersebut yang dapat ditiru oleh manusia, pohon juga memberikan sebuah tauladan yang tak ternilai hebatnya. Dia menyisakan makanan untuk calon keturunannya. Buah yang berisi embrio kehidupan, di situ sudah tersedia makanan untuk anaknya yang entah dia akan menjadi seperti induknya (hidup) atau tidak (mati). Selain itu, dia juga dengan ikhlas tanpa berontak apabila makanan untuk anaknya diambil binatang atau manusia untuk dijadkan makanan. Pohon tersebut hanya pasrah kepada yang menciptakannya, tak pernah mengeluh, juga tak pernah berontak dan dia jalani saja apa yang menjadi tugasnya. Seolah-olah pohon tersebut tak meminta haknya hanya saja Allah maha adil sehingga pohon yang begitu tulus tersebut tetap bisa hidup. Dialah sumber kehidupan bagi semua makhluk yang ada di muka bumi.

Jika kita melihat hewan sama mereka mencari makanan. Seekor induk ayam dengan beberapa anaknya bersama-sama keluyuran ke pekarangan untuk mencari sesuatu yang bisa mengganjal parungnya. Kadang anak-anak tersebut kelihatan bermain-main ditaman saling lempar ejekan dan penuh canda tawa. Apabila induknya mendapatkan makanan mereka berlarian mendekat seolah meminta jatah. Induknya dengan segala kearifan dan kebijaksanaan membaginya. Di sana tak ada protes anak bahwa induknya pilih kasih. Mereka hidup bersama-sama, mencari makan bersama-sama, seolah tak takut tidak mendapatkannya. Mereka hanya berjalan-jalan ditaman dan kenyang.
Ada juga burung, pagi-pagi sebelum subuh sudah berkeliaran melaksanakan pemanasan. Setelah penglihatan mereka berfungsi karena cahaya matahari, mereka tanpa khawatir tidak mendapatkan makanan pergi entah kemana, bersamaan membukanya mata anak-anaknya. Tak lama burung tersebut kembali dengan menjepit makanan diparuhnya. Sungguh pemandangan yang indah burung tersebut membagi makanan buat anak-anaknya dengan adil dan bijaksana. Selesai memberi makan tanpa istirahat dia terbang lagi entah kemana dan kembali menjepit makanan lagi. Entah berapa kali dan sampai kapan burung menjalani hari-harinya seperti itu. Dia juga tak pernah merasakan capek dan tak pernah protes kepada siapapun, yang penting dia menjalaninya tanpa perlu disanjung, dipuji bahkan mengharapkan ganti diopeni anaknya kelak. Yang penting baginya nyawa anak-anak bisa menjadi burung layaknya ia.
Semua alam apabila kita perhatikan merupakan suatu keindahan bagi kita yang diciptakan oleh Tuhan yang Maha Kuasa. Indah memang apabila kita dapat meniru mereka dalam mencari makanan. Manusia harus bekerja keras memecah batu cadas guna mendapatkan makanan, dan selayaknyalah makanan tersebut tidak untuk kita sendiri. Ada diantara anak, saudara dan tetangga yang masih kekurangan sebaiknyalah kita hanya makan seperlunya dan yang lain kita berikan kepada mereka yang kekurangan tersebut. Itu adalah tugas makhluk hidup, manusia adalah makhluk hidup, sama mempunyai tugas mencari makanan yang digunakan untuk mempertahankan hidup baik dirinya sendiri orang lain maupun makhluk lain.
Makhluk yang sangat mengagumkan adalah semut. Semut adalah makhluk yang super sosial. Sebuah artikel yang kuperoleh dari teman-teman waktu melakukan rapat kerja Center of Excelent Student, sebuah organisasi penelitian extra kampus. Dalam artikel y6ang ditulis oleh Iwan Sanwani mengungkapkan semut berjalan berputar-putar atau zigzag, maka artinya semut tersebut sedang mencari sumber makan untuk kaumnya. Bila menemukan sepotong daging, kembang gula atau obyek lainnya dijamin ia tidak akan menghabiskan atau mengangkutnya sendiri. Ia akan berputar-putar sejenak untuk mengukur dan menghitung-hitung berapa semut yang diperlukan untuk membawanya. Pulang kesarang lagi dan berjalan lurus dengan melepas zat asam sebagai petuntuk. Kemudian semut tersebut melaporkan kepada kelompoknya dan semut-semut pekerja berjalan lurus sesuai navigasi yang diberikan oleh semut tadi.
Semut dengan sangat disiplin mengangkut makanan tadi. Sampai-sampai jika kita memberi gula didekat jalur tadi semut pekerja tidak akan belok untuk mencari makan di sana. Bukan hanya itu apabila ada semut yang keluar dari jalurnya telah ada penjaga semut dengan capit dikepalanya siap untuk memotong semut yang mbalelo. Mereka menimbun makanan-makanan tersebut sampai memperoleh makanan yang cukup untuk bekal menghadapi musim penghujan. Tidak ada makanan yang sisa sehinga basi, tidak pula ada semut yang kekurangan makanan. Mereka sangat pandai memprediksi berapa makanan yang dibutuhkan untuk satu tahun yang akan datang. Makanan itulah yang dibutuhkan bukan untuk perseorangan tetapi untuk semua kaum yang menjadi kelompoknya. Itulah makna hidup manusia jika ingin tentram mencari makan bukan untuk dirinya sendiri tapi digunakan untuk menghidupi kaumnya dan juga diperkirakan bukan hanya jangka pendek tetapi juga memikirkan jangka panjangnya.
Ada sedikit yang menggangu pikiran saya ketika membaca kisah Siti Maryam. Ibu Isa tersebut tiba-tiba memperoleh makanan padahal beliau hanya ada di kamar. Tak ada pula yang mengirim makanan selama beliau di kamar. Setelah ditanya dari mana makanan tersebut beliau hanya menjawab ”pemberian Tuhan”. Secara ilmiah memang tidak mungkin makanan datang secara tiba-tiba masuk ke kamar akan tetapi hal itu ternyata bisa terjadi dikehidupan super modern kelak. Hal yang hampir serupa dialami oleh seorang asisten ilmiah Prof. Habibi. Entah, saya lupa namanya yang jelas beliau hanya tinggal dikamar bersama sebuah komputer. Beliaulah yang menuliskan rumus-rumus mekanika kapal terbang. Setelah artikel yang dibuatnya selesai dia mengirimkannya kepada Habibi yang berada di Jerman via internet. Habibipun mempresentasikan artikel tersebut dan mendapatkan beberapa upah atas penemuannya. Dan sebagai imbalannya semua kebutuhan asisten beliau dijamin oleh Habibi. Datanglah makanan tersebut ke kamarnya padahal dia tidak pergi kemana-mana. Kemungkinan kisah-kisah Maryam terjadi lagi pada era super modern, pada saat manusia bisa mengirim makanan lewat internet. Maha besar Allah yang telah menciptakan manusia dengan segala kelebihannya.
Dari uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa tugas manusia adalah mencari makanan untuk mempertahankan hidupnya, manusia lainnya atau untuk kelangsungan hidup makhluk-makhluk yang lainnya. Cara mencarinya beragam yang jelas ada yang jela kita tidak perlu takut tidak mendapatkan makanan. Sesungguhnya Allah Maha Adil dan Bijaksana.
Tugas kedua manusia terlihat ketika ikan salmon bermigrasi kehulu sungai. Gerombolan salmon-salmon berjuang kehulu sungai melawan arus sungai. Seperti tak mengenal lelah kadang mereka harus menanjaki air terjun. Mereka menempuh perjalanan yang penuh bahaya. Dan tak jarang mereka masuk perangkap beruang yang menanti kelelahan mereka, diujung riaknya air sungai. Sesampainya dihulu atau tempat yang diinginkan mereka hanya ingin meletakkan telur disana. Hanya meletakkan telur harus berjuang mempertaruhkan nyawa? Memang itulah tugasnya dan ikan salmon menjalani tanpa protes. Dengan perjuangannya tersebut sampai sekarang ikan-ikan salmon masih ada. Berkat perjuangannya tersebut banyak anak-anak beruang yang bisa hidup, banyak bangau-bangau juga hidup karena induknya mendapatkan salmon yang mati kelelahan dan diberikan kepada anak beruang atau anak bangau. Keindahan perjuangan mereka terekam dalam kamera dan disiarkan dalam televisi-telesisi.
Tidak hanya salmon yang bermigrasi, burungpun pada musim-musim tertentu bermigrasi ketempat tertentu bahkan melewati lautan lepas. Sesampainya ditempat tujuan mereka itu saling kenalan dan melangsungkan pesta perkawinan dan mempunyai keturunan setelah itu bermigrasi lagi ketempat semula untuk menjalani kehidupan berikutnya. Itulah perjuangan makhluk hidup yang hanya untuk melestarikan kehidupan jenisnya. Semua perjuangan tersebut dijalani burung dengan ikhlas tanpa ada yang berontak. Bayangkan jika salah satu saja berontak. Salmon mungkin akan mati dan tak punya keturunan lagi atau mungkin tak dapat disebut salmon lagi karena berevolusi menjadi jenis ikan lain walaupun tubuhnya mirip salmon. Begitu juga burung jika tidak bermigrasi akan mati dan tidak punya keturunan.
Manusia sebagai makhluk hidup juga mempunyai tugas yang sama yaitu melestarikan keturunan. Tugas tersebut diaplikasikan pada bentuk pernikahan. Pernikahan tersebutlah yang menyebabkan kita manusia masih ada sampai sekarang. Pernikahan tersebutlah yang memerlukan perjuangan dan keikhlasan salmon atau burung disana. Sebuah perjuangan yang harus mempertaruhkan nyawa apabila seorang ibu melahirkan. Perjuangan tersebutlah yang disebutkan dalam sebuah hadis bahwa pernikahan merupakan setengah dari agama islam. Agama islam adalah agama alam semesta ini, agama yang dianut oleh ikan salmon dan burung-burung itu pula.
Di dalam perkawinan antar manusia ada aturan-aturan tertentu. Aturan tersebut bertujuan agar mendapatkan keturunan yang baik. Misalnya peraturan tidak boleh menikah dengan saudara sedarah. Peraturan itu bisa dipelajari dari sifat genetika biologi dahulu. Apabila terjadi pertemuan kedua gen yang mempunyai sifat respien tertentu kemungkinan terjadinya kecacatan sangat besar pada keturunan selanjutnya. Misalnya ada orang yang buta warna. Itulah aturan Allah yang maha mengetahui sebelum manusia mengetahui. Betapa mulianya Allah memikirkan dan melestarikan keturunan manusia.
Ada hal unik lain dalam melestarikan keturunan yang terjadi pada lebah, semut dan sejenisnya. Jarang sekali dari mereka yang mampu mempunyai keturunan. Dari beratus-ratus ribu semut dalam satu kelompok hanya ada satu induk. Bagaimana semut-semut yang lain. Mereka melaksanakan tugas memberikan makan kepada induk tersebut dan mengasuh anak-anak induk tersebut. Tak jarang mereka harus melepaskan nyawa untuk melindungi induknya. Bahkan ada pula yang meneliti pada jenis-jenis semut tertentu mereka saling bunuh untuk membuat jumlah mereka seimbang. Dari sanalah kita akan tahu betapa besarnya pengorbanan yang harus dikeluarkan hanya untuk melestarikan keturunan.
Perkawinan dikatakan dalam sebuah hadist sebagai setengah dari pelaksanaan agama islam. Dengan, demikian tugas manusia masih ada setengannya lagi. Yah tugas ketiga atau keempat. Hal itu ternyata terdapat dalam surat Al Baqarah sekitar ayat 30an dan diulang-ulang lagi disurat yang lain bahwa manusia diturunkan dimuka bumi untuk menjadi khalifah (wakil atau pemimpin). Pemimpin dalam arti luas bukan saja memimpin manusia saja tetapi juga memimpin binatang, tumbuhan, dan apa saja yang terdapat di muka bumi ini. Tujuan kepemimpinan alam semesta adalah agar terjadi keseimbangan alam. Tetapi karena manusia hanya memperebutkan kursi kepemimpinan manusia dan jarang yang mau menjadi pemimpin alam maka yang terjadi sekarang adalah ketidakseimbangan alam. Alam mulai berontak dengan berbagai gempa, ada juga banjir dan bahkan muncul lahar bukan digunung tapi di tambang minyak bumi.
Dari uraian tersebut maka jelaslah sudah tugas manusia di muka bumi ini yaitu mencari makan, melestarikan keturunan dan menjadi pemimpin alam. Mencari makanan diaplikasikan dalam bentuk bekerja. Melestarikan keturunan diaplikasikan dalam pernikahan dan menjadi pemimpin selain diaplikasikan memimpin anak juga menyeimbangkan alam. Masih ada tugas-tugas lain manusia, karena tugas tersebut belum saya diketahui mari kita mencari bersama-sama apabila menemukan tolong saya diberitahu sehingga dapat melengkapi artikel ini.

Air

Manusia berasal dari tanah demikian kesimpulan yang diambil dari Al-Kitab. Merujuk pada pelajaran biologi unsur air merupakan unsure dominan pada tubuh manusia. Mana yang benar? Semua benar, karena air sebenarnya berasal dari tanah atau didalam tanahpun ada usur airnya. Tanah merupakan kesatuan dari unsure-unsur yang salah satunya air.

Air sumber kehidupan tanpa air semua tak bias hidup

Air merupakan bagian utama dalam berthaharah (bersuci). Begitu juga air merupakan sumber kehidupan manusia dan makhluk lainnya. Air mampu membersihkan tubuh dari kotoran.

Air merupakan sumber pendingin. Terlihat dalam mesin mobil atau diesel bias dingi karena air.

Air dapat melunakkan tanah yang padat dan keras bila ditambah air akan menjadi lunak.

Indahnya air dalam keluarga. Jalan bersama saling dorong menuju muara yang sama. Menabrak tak apa menyisir dan mengikisnya dan membuat batu yang menghalangi hancur jadi tanah dan mengikutinya sampai muara.

Keluarga menjadi air yang dibutuhkan oleh masyarakat sekitarnya. Mengajak mereka kejalan yang paling lurus menuju muara.

Tauladani Pisang

Saya pernah bertanya mengapa pohon pisang setelah berbuah dipotong pada ayahku. Beliau bilang pisang hanya berbuah sekali. Kalau tidak dipotong ya mati sendiri. Begitulah keherananku pada pohon pisang yang ditanam ayah. Kini setelah baca-baca informsi ada yang unik dari pohon pisang.

Keunikan terlihat ketika pohon pisang yang belum berbuah dipotong. Pohon pisang tersebut tetap akan tumbuh lagi tunas dan daunnya. Jika dipotong lagi akan tumbuh kembali dan tidak akan mati. Dia tidak akan mati sebelum berbuah atau terserang oleh penyakit.

Dari fenomena pohon pisang tersebut terdapat tauladan hidup bagi kita. Kita berjuang terus menerus dan tidak akan berhenti jika belum membuahkan hasil. Pernikahan merupakan perjuangan manusia, untuk menghasilkan kebahagiaan dunia dan akhirat. Buah dari pernikahan adalah keluarga yang sakinah. Isteri salihah, Suami Solehah dan anak yang berbakti pada orang tua. Sebelum semua itu terwujud seorang suai isteri haruslah berusaha menumbuhkan usaha-usaha untuk mewujudkannya.

Musim Haji, Korban dan Hari Ibu

Berduyun-duyun moeslim seluruh dunia mendatangi kot makkah untuk melaksanakan kewajibannya ritual haji. Yang jadi pertanyaan mengapa kutuliskan musim haji sebagai hadiah pernikahan Ika dan Deni.

Nikah berarti melaksanakan tugas melestarikan keturunan. Hal inilah yang dicontohkan oleh nabi Ibrahim dan Siti Hajar. Sampai-sampai mereka gundah gulana puluhan tahun tidak dititipi keturunan juga oleh Allah.

Ritual-ritual haji merupakan napak tilas pasangan itu yang berjuang mendapatkan seorang anak yang saleh. Wukuf merupakan perjangan seorang ibu bermalam di gurun yang gersang dan sai merupakan perjuangan siti hajar lari kesana kemari untuk mencari makan.

Perjuagan Ibrahim, Siti Hajar dan Ismail inilah yang tercantum dalam Al-Qur’an. Perjuangan keluarga yang menghasilkan keturunan bagi nabi-nabi lainnya. Sehigga Ibrahim disebut bapaknya para Haji. Semoga perjuangan itu menjadi inspirasi dalam pernikahan Ika dan Deni.

Ada tiga aspek dalam ritual korban tauhid, social dan khalifah. Tauhid memandang korban sebagai perjuangan melawan sekutu-sekutu Allah. Ibrahim diberi pilihan Allah atau Ismail. Dan orang-orang yang berkorban berjuang memilih Allah atau Harta yang semua diwakili oleh binatang, kambing atau sapi. Setelah membunuh sekutu Allah, diberikanlah kepada fakir miskin berupa daging.

Aspek yang terakhir menunjukkan cinta kasih pada alam. Pada waktu menyebelih harus mengucapkan basmalah yag artinya Atas Nama Tuhan kalimat yang disadur oleh Soekarno ketika memplokamirkan kemerdekaan (atas Nama Bangsa Indonesia). Cinta pada alam begitulah fungsi kekhalifahan, ternyata pada pemotongan sapi dan kambing atau binatang lainnya untuk menjaga populasinya agar imbang. Tidak hanya keseimbangan alam manfaat korban, tetapi keseimbangan ekonomi. Seperti ang kita ketahui bahwa yang mempunyai binatang korban kebanyakan orang-orang yang tingkat ekonominya rendah.



Puluhan tahun yang lalu pada tanggal 22-23 Desember perwakilan perempuan seluruh Indonesia berkumpul di Yogyakarta. Untuk memperingati momen itu dibangunlah gedung wanita tama Yogyakarta. Kini setiap tanggal 22 Desember dijadikan Hari Ibu.

Tepat tanggal 22 Desember 2007 seorang sahabatku menjadi ibu ruah tangga. Semoga dia menjadi ibu dengan semangat hari ibu: menentang kekerasan pada perempuan, emansipasi gender dalam pendidikan, mendidik anak dengan ketulusan

Saling Mengisi

Ada beberapa keanehan dalam pendidikan di masa sekarag ini. Kalau dulu para penghafal Qur’an banyak yang berjenis kelamin laki-laki. Kini cenderug perempuanlah yang bisa menghafal Qur’an. Mengapa? Disekolahpun demikian yang mempunyai prestasi cenderung perempuan. Mengapa demikian?

Analisis ini merupakan kutemukan dari perjalananku ke Jakarta bersama Bp. Budi sekeluarga dan beliulah yang nyetir mobilnya. Di jalan selalu saja Bp. Budi menanyakan kepada istrinya. “Ini nyampai mana Bu? Setelah ini mana Bu?” pertanyaan ini berulang-ulang sampai puluhan kali sepanjang perjalanan.

Dari fenomena ini kupikir mengapa seorang perempuan disekolah banyak sekali yang ranking 1. Apakah seorang wanita lebih kuat dalam menghafal daripada laki-laki. Karena system pendidikan kita mementingkan hafalan saja. Evaluasipun hanya hafalan sebagai indikatornya. Sehingga wanitalah yang mempunyai prestasi yang tinggi. Lalu kubaca dalam sebuah situs nama-nama orang yang hafal al-Qur’an. Ternyata permpuan mendominasi disana. Itu menguatkan hipotesaku.

Lain Halnya dengan seorang laki-laki. Dia merupakan sosok yang cepat mengambil keputusan, dengan analisa yang tajam. Mungkin Arin bisa menghitung jumlah mahasiswa laki-laki yang di Jurusan Matematika. Berapa yang laki-laki? Dari laki-laki itu berapakah yang tertarik di bidang keahliah analis matematis. Atau bandingkan jumlah dosen matematika yang analis matematis.

Dari fenomena tersebut sebenarnya suami isteri harus saling mengisi. Kekurangan suami adalah kurang dalam hafalan. Maka ingatkanlah suamimu. Dan seorang suami lebih kuat analisis dan mengambil keputusan, berilah alasan yang logis kepada istri sebelum mengambil keputusan.

Kunci rahasia kebahagiaan suami istri

Sore hari itu kami telah datang di selatan Prambanan. Kami bersilaturahim ke tempat Bp. Sumarno. Beliau merupakan dosen yang cerdas dan dekat dengn mahasiswa. Beliau sekeluarga sedang berbahagia mendapat karunia seorang anak. Cahaya Jagaditha begitulah beliau memberikan nama kepada buah hatinya.

Momen itu sampai sekarang masih teringat dimemoriku. Padahal sebenarnya itu bukanlah momen yang penting, yang membuatku terkesan bukan kunjungannya. Akan tetapi pesan beliau tentang rahasia seorang suami istri. Itulah ilmu yang berharga kelak bila aku menjadi suami. Kini saat aku menulis surat untukmu kucurahkan memoriku tersebut semoga dapat berguna untuk kebahagiaan kalian berdua.

Perhatian itulah yang diinginkan oleh seorang istri. Seorang suami harus mengetahui ketika istrinya sedang sedih dari tingkah laku, raut mukanya. Seorang istri memang biasa menyimpan isi hatinya. Untuk para suami sebaiknya juga memperhatikan hal-hal kecil yaitu masakan yang berbeda, bukan di nilai tapi diperhatikan untuk dijadikan mengambil keputusan dalam menghadapi istrinya. Banyak istri yang perlu didengarkan keluh kesahnya agar keluarga bisa bahagia.

Berbeda dengan suami. Seorang suami adalah seorang pria. Secara psikologi pria mempunyai kecenderungan ingin menjadi seorang pahlawan. Untuk itu sebagai isteri harus membuat suamiya bangga. Suami yang merasakan dirinya mampu itulah yang membuatnya tetap setia.

Kedua hal itulah yang menjadi rahasia kebahagiaan seorang suami dan istri. Yang pertama suami harus memberi perhatian pada istrinya. Dan yang kedua seorang istri harus menjadikan suaminya seorang pahlawan.

Indahnya Saling Berbagi

November 2006 merupakan momen mengecewakan. Momen pernikahan Dewi sangat menyiksaku karena tak bisa menyumbangkan sebuah tembang klasik penuh kenangan “Nyidam Sari”. Tembang itu hanya kudendangkan di Sebelah utara Kota Madina, Sumatera Utara.

Kembali terulang ketika mau membawakan tembang “mas kumambang” di gunung kidul aku harus melaksanakan tugas di Jakarta. Bukannya aku tak cinta pada adikku yang bernama Ika Wulandari. Memang sebenarnya aku kecewa dengan dia. Bukan karena dia menikah dengan orang lain, tetapi dia memutuskan beberapa keinginanku yang tak mungkin bisa terlaksana ketika dia menikah terlebih dulu. Kedua, yang sangat menggangguku ketika dia menikah adalah aku juga ingin sekali menikah.

Sampaikan Maaf dan salam buat keluargau dik. Semoga walimatul ursy dik Ika dan Mas Deni dapat berjalan dengan lancer dan berkah sampai akhir jaman. Ami..n! dan semoga tali silaturahim kita semua semakin erat walau tanpa kedatanganku.

Kubaca lagi beberapa hadiah pernikahanku terhadap dik dewi yang tak sempat kuberikan padanya. Entah karena apa aku merasa itu bukan tulisanku sendiri yaa…! Padahal berhari-hari kutulis itu dengan tanganku. Aku merasa heran betapa bagusnya tulisan itu. Semoga tulisan itu berguna tuk menjalani hidup berkeluarga dengan suamimu.

Ini ada sebuah cerita yang mugkin berguna padamu.

Suatu hari ada seorang kakek dan nenek datang di sebuah perkantoran elit Jakarta Selatan. Mereka berdua tampak sangat istemewa dari pandanganku, karena keduanya memang paling beda dengan orang-orang disekitarnya. Orang-orang dikantor tersebut kelihatan sangat sibuk, tapi kedua pasangan itu terlihat berjalan santai saling pegangan tangan. Orang-orang dikantor kelihatan sangat gagah tegap dan hampir semua berdasi rapi, kedua pasangan itu rambut keriput jalan bungkuk dan bajunya mode tahun tujuh puluhan.

Merekapun kesulitan menaiki tangga demi tangga di kantor tersebut. Untunglah ada seorang pria muda menolongnya. Akan tetapi, kedua pasangan itu menolak dengan berbagai alasan. Pemuda itu pun hanya ngobrol dengan sepasang kakek nenek tersebut. Dari perbincangan mereka ternyata kakek nenek tersebut hanya menuju kantin kantor di lantai kedua.

Di peroleh informasi juga bahwa mereka berdua dulu bekerja dikantor itu. Mereka ingin bernostalgia disana. Akhirnya walaupun dengan kesulitan berjalan ketiganya sampai juga di lantai kedua. Karena tidak ingin mengganggu pasangan kakek dan nenek tersebut pemuda itu duduk di meja yang berbeda. Dan mereka memesan makanan pada pelayan yang menghampirinya.

Hidangan yang dipesanpun datang. Tapi aneh sepasang kakek nenek itu hanya memesan satu porsi ayam goreng dan pemuda itupun sama memesan ayam goreng. Pemuda yang melihat keanehan itupun menawarkan ayam gorengnya kepada sang nenek “Nek, ini ayam goreng saya buat nenek aja” mengira mereka tak mampu membeli dua porsi ayam goreng. Dengan senyum manis ala orang tua, nenek itu menggeleng dan kemudian menatap suaminya yang akan menikmati makanan.

Terlihat kakek menyantap makanannya dan nenek tersebut hanya senyum dan melihat sang suaminya sedang makan ayam goreng. Mungkin dulu memang itulah kesukaan sang suaminya pikir pemuda itu.

Setelah lama dan merasa sangat iba pada si nenek pemuda itupun bergerak dan berbicara pada suami-istri tersebut. “Kek, kenapa nenek tidak makan? Mereka hanya tersenyum. “Apa mau dipesankan makanan yang lain nek?” Tawar pemuda itu “karena berbagai pertanyaan tersebut sang kakek akhirnya membuka mulut untuk bicara. “Nak, kami kalau makan harus bergantian” “Mengapa harus bergantian bukankah makan bersama lebih enak?” Pertanyaan lagi dari pemuda itu. “ memang sebenarnya lebih enak makan bersama-sama tapi sayangnya gigi palsu kami hanya bisa untuk satu orang, nanti setelah makananku habis gigi itu di gunakan oleh istriku”.

Cerita tersebut menghiasi buku mungil dengan judul “setengah isi setengah kosong” yang mengalami beberapa perubahan. Cerita yang lucu tapi juga memberikan arti nikmatnya saling berbagi. Seorang suami istri yang hidup bahagia sampai tua renta masih pula mesra. Itulah cita-cita sebuah pernikahan. Semoga pernikahan Ika Wulandari dan Deni Suharyono mampu hidup bagai seorang kakek dan nenek tadi. Amiiin.

Emas dari gunung kidul

Melihat sepak terjang Arin merupakan kekaguman tersendiri bagiku. Dia tak menyianyiakan waktu. Berbagai kegiatan dia ikuti. Religi, social dan kepenulisan serta pendidikan itulah kegiatanya diluar kuliahnya. Hanya dia tak terlihat dalam perhelatan politik kampus. Tak ada juga jabatan yang ia sandang didalam kepengurusan organisasi manapun kecuali pada waktu KKN.
KKN di Nias merupakan bukti kepeduliannya untuk merenovasi pendidikan Nias pasca gempa. Selain itu juga ditunjukkannya pasca gempa Jogja. Tapi dia tetap diam tanpa bicara sombong dengannya.
Pernah aku membicarakan kelebihan-kelebihan Arin dengan titik yag membuat aku dan titik bebincang lebih dari 3 jam. Itupun kami belum begitu puas karena terhalang oleh malam dan aku harus pergi ke Yogja, dan Sorenya harus ke Jakarta.
Tak ragu lagi sekarang kusebut ia sebagai emas dari gunung kidul. Walaupun sebenarnya punya darah Palembang, aku lebih suka dia berasal dari gunung kidul. Di daerah berbatu itulah banyak sekali emas yang timbul apabila digali. Salah satu buktinya SMK Wonosari menjadi SMK internasional.
Emas bukan sekedar logam mulia. Keindahannya menjadikannya perhiasan didunia. Orang tak akan menolak jika emas diberikan kepadanya. Bahkan dalam buku rich game emas merupakan investasi teraman. Harganya cenderung naik mengapa?
Karena berbeda dengan kayu atau besi yang bisa lapuk dan berkarat. Emas tak mengenal istilah tersebut. Besi jadi tanah di tempat sampah itu biasa. Kayu dimakan rayap ditempat lembab bukan hal yang aneh pula. Tetapi apabila emas dikubangan lumpur tetap saja kelihatan keindahannya.
Engkau adalah emas yang indah. Dimanapun tempatnya tetap indah, walaupun dikubangan sampah, gunung kidul atau di lembang atau daerah lainnya kau tetap jadi emas. Di samping Deni Suharyonopun enkau tetap emas. Emas tetaplah emas.

Sarung Biru

Entah aku sudah lupa proses dan kenangannya seperti apa. Sarung biru itu katanya ada sekitar buatan Arin sendidri. Salah satunya diberikan kepadaku dan satunya untuk Heru sahabatku. Hadiah istiewa itu masih membekas dihatiku sampai sekarang.
Memang sarung itulah yang membuat diriku tergerak untuk sholat dan di akhir sholat ku doakan “semoga yang memberikan sarung ini mendapatkan kebahagiaan Dunia Akhirat”. Kini sarung itu ketinggalan di Jogja ketika awal November lalu aku pulang ke Jogja. Maklum aku buru-buru mengejar waktu untuk mengantar bapak ibu kejakarta. Semoga saja awal januari ini sarung itu bisa kuambil di jogja.

Ia bilang bahwa dia ingin menjahit baju dan beberapakali katanya mengajari teman-temannya menjahit baju. Sayang aku agak malu ketika harus menjahitkan bajuku yag robek kepadanya.

Rian Roserina

“Kak, sakit mataku kambuh lagi. Aku takut mungkin kelak aku jadi buta” SMS itulah yang nyasar ke HP-ku. Memang kalo ada kenalan baru saat itu aku langsung menanggapinya apalagi orang yang belum kukenal. Saat itu aku juga mempunyai banyak cerita pedih yag harus kutumpahka kepada seseorang. Dan biasanya orang yang belum kukenallah yang menjadi curhatanku lewat dunia maya.

Hampir tiap hari kami bercerita lewat SMS saling nasehat-menasehati. Dari kata-katanya kukira dia adalah anak yang masih sekolah. Rian Roserina begitulah dia memberikan namanya untukku.

Akhirnya dia mengirim surat buatku. Aneh surat itu menancap di pintu UKM Peelitian, dimana tiap hari pasti aku disana. Tempat itulah tempat istirahat setelah aku kuliah. Tepat tidur ketika malam dan tempat yang menyumbangkan kreatifitas untukku.

Aku heran siapakah yang sebenarnya Rian Roserina? Kenapa dia tahu UKM Penelitian. Bukankah dia masih sekolah di SMA. Keanehan inilah yang membuat diriku semakin penasaran dibuatnya.

Aku tak ingin menanyakan padanya, karena aku memang menyukai persahabatan seperti ini. Orang yang tak kukenal mmbuat semua isi hati tanpa tertutupi terkuak padanya. Entah apa aja yang telah kuceritakan padanya. Yang paling penting nasihat-nasihat keluar dengan apiknya pada diriku maupun keluar dari otakku. Itulah yang membuat hidupku selalu berubah.

Aku yag saat itu seorang introvert hanya bisa bercerita pada seorang yang belum kukenal. Walaupun aku mempunyai banyak teman tapi cerita hanya bisa mengalir pada teman di dunia maya termasuk rian roserina.

Surat kedua pun datang kali ini tidak hanya untukku tetapi juga untuk Heru sahabatku. Aku baru menduga bahwa Rian Roserina berasal dari UKM penelitian juga. Dugaanku tidak salah ketika datang surat ketiga dialah Arin orang yang dulu kukenal. Masih terngiang ucapan mas Andi “Pokokee aku titip dia harus jadi Anggota UKM Penelitian lho No” pesan mas Andi kepadaku.

Perut Karet

Tamuku ini sangat istemewa buatku. Wanita yag kuanggap sebagai saudaraku sendiri. Apalagi ternyata dia punya jalur keturungan yang juga berasal dari Dawung tempat tinggalku. Dan bahkan masih sedulur denganku.
Memang sebenarnya aku telah menduga bahwa dia mungkin saja bersaudara dengan keluargaku setelah membaca silsilah masyarakat Gunung Kidul dalam sebuah novel yang berjudul “Pulung Gantung di Gunung Kidul”
Dia pertama kali ke Sragen aku sedang di Tapanuli sehingga tidak tahu siapakah yang menjadi sedulurnya itu. Setelah kutanya-tanya ternya dia masih pak likku juga. Bahkan istrinya masih satu keturunan dengan diriku.
Sedulur jauh dan lama tak jumpa menyambungkan silaturahmi kami itulah istimewanya tamuku itu. “Arin” begitulah aku memanggil mahasiswi jurusan Pendidikan Matematika itu.
Ada usul usil yang masuk di pikiranku untuk tamuku ini untuk menambah kesan. Maklum kami berdua kalo berteu sering salin ejek. Walaupun begitu kami tak pernah merasa tersinggung. Mungkin diantara kami sudah tahu kalu itu hanya pura-pura saja. Karena kami juga sering saling menasehati, berbagi kesedihan dan lain sebagainya.
Kisah usilku adalah ketika jamuan makan. Kami sekeluarga, Arin dan Titik makan dirumah. Sebagai tuan rumah aku mengambilkan nasi untuk tamuku itu. Kuberi nasi yang sangat banyak. Satu piring penuh yang mengingatkanku pada orang-orang Batak ketika makan.
Ajaibnya tidak ada protes pada diri Arin. Mungkin dia menganggap bahwa memang orang sini makan sebanyak itu. Padahal tidak, aku hanya satu enthong, titikpun makan sekitar setengah piring. Dan dia melahap habis nasinya.
“Benar-benar perut karet” begitulah ejekku ketika selesai makan. Diiringi tawa ketika aku bercerita kisah usilku kepada dia.

Sepotong Tebu

Sawahku sore itu telah berubah menjadi tempat wisata bagi seorang yang tinggal di Jogja. Bertiga Kami pergi kesawah yang kini telah berubah menjadi hutan jati. Memang ayahku sejak tahun 97 mengubah sawah sedikit demi sedikit menjadi hutan jati. Dan kini sawah itu sudah tertanam sekitar 700an pohon jati.
Aku, Arin dan Titik membawa plastik untuk memetik Lombok hijau yang ditanam ayah di bawah pohon jati. Sesampai di sawah ternyata aku baru ingat kalo saja tadi bawa arit (sabit) barang kali bisa makan tebu di sebelah sawahku yang memang ditanami tebu. Untuk aja ada mas Diman yang mau pulan dan setelah mencari kayu disawah dengan sepeda ontelnya.
“Mas, gowo arit ora?” tanyaku pada mas Diman
“onone parang No, gawe opo?” jawabnya
“ra popo, cumin mek tebu mas” jawabku
“Iki diambil dewe neng ngisor kayu” akupun mengambil parang yang diantara boncengan sepeda dengan kayu diatasnya. Jarang petani ditempatku yang mempunyai parang. Rata-rata mereka membawa sabit di sawah. Mas Diman membawa parang ini dari Palembang. Memang selama hamper 20 tahun beliau tingga bersama keluarganya di Palembang.
“Mathurnuwun yoo.. mas” aku langsung menuju sawahku menyusul kembali Arin dan Titik yang telah berada disana.
Sesampainya disawah kita semua memetik buah Lombok yang hanya tertanam beberapa puluh aja di sawahku. Setelah selesai aku masuk kekebun tebu. Memilih tebu yang bagus untuk di makan. Dan menggunakan parang itu kupotong 2 batang tebu.
Jika ingat dulu hamper semua sawah disini ditanami tebu. Termasuk sawahku hamper 10 tahun selala ditanami tebu. Ketika aku kelaparan saat ngembala kambing, biasanya aku masuk ke kebun tebu. Tanpa bawa alat apa-apa kupatahkan batang tebu dengan tangan dan kakiku. Caranya tebu dirobohkan kemudian diinjak dekat dengan ruas dan kemudian tangan menarik ujung tebu keatas. Akhirnya tebu patah.
Yang unik megupas tebu. Tebu yang telah hilang daunnya itu kukupas dengan gigi. Yaa… Cuma dengan gigi. Dulu memang terbiasa seprti itu. Tapi sekarang aku mejai takut kalau merobek bibirku.
Kini kukupaskan tebu ini untuk tamuku. Arin yang mngaku belum pernah merasakan manisnya tebu. Dia hanya merasakan tebu setelah dimasak menjadi gula. “Mas,iki tebune sopo mas?” Tanya Arin
“Iki tebune Mbak wong Blimbing”
“jadi jenengan nyolong?” tanyanya
“Iya masyarakat sini sudah biasa ngambil tebu disawah”
“Aku pengen banget tebu, tapi sing ra colongan”
“Iya makan aja dulu entar setelah habis ta nembung sing duwe biar diikhlasin”
“Yo..mengko pokokee jenengan sing nanggung dosane”
“gah… yo ditanggung bareng-bareng, mosok cumin aku dewe”
“pokokee… jenengan mas”

Soal tebu yang mengingatkanku pada Arin. Dia memang baik dan jujur hanya makan aja hati-hati sekali. Tidak mau yang haram. Padahal masyarakat tempat tinggalku sudah biasa kalau lapar disawah atau kehausan masuk kebun tebu dan makan didalamnya. Bahkan pisang,papaya dan mangga disawah diaggap sebagai ilik masyarakat. Siapa yang duluan melihatnya masak dia bisa mengambilnya.
Arinlah yang memaksaku aku pergi ke tempat Mbak Ndari. Mbak Ndari begitulah kami sekeluarga memanggil teman kakakku yang sekarang sudah diperistri Bos Tebu. Dia memiliki hamper 75% kebun tebu di desaku. Akupun bilang sama Mbak Ndari kalo kemarin mengambil tebunya dan memohon diikhlaskan.

Kenangan Terakhir bersama Arin

Terakhir aku bertemu Arin di Samirono 39A. Kontrakan hijau itu kutinggalkan selama beberapa bulan dan kini aku kembali kesana sekedar tuk bermalam sehari ketika liburan Idul Fitri. Kutelepon Arin sedang dimana? E… ternyata dia sudah di Jogja. “Akupun ingin berkunjung ke kostmu” begitulah kubilang padanya. Tanpa kuduga dia menjawab “Aku saja yang kekontrakanmu Mas”.
Terusnya “Kapan?”

“Aku bisa hanya pagi ini sampai jam 7 pagi, jam 8 aku harus ke Morangan ada pertemuan dengan bosku disana” terangku. Ya…. Memang aku pulang tidak sekedar libur idul fitri tapi juga dalam rangka peresmian perusahaanku di Jogyakarta.

“tunggu aku 5 menit lagi mas” tanpa kusangka dia datang sepagi ini jam 6 pagi.
“Ok kutunggu”
“salamualaikum” langsung ditutupnya
“walaikum salam” jawabku lirih

Langsung aja aku ganti pakaian mempersiapkan acaraku jam 8 nanti. Dengan laptop didepanku aku menyiapkan segala sesuatu yang akan kubawa ke Kantor Jogja. Sambil menunggu kugunakan sedikit waktu itu. Setelah dia datag kupersilahkan masuk dan duduk di kursi jelek ruang tamuku dia menolak dam memilih duduk lesehan. Dan seperti biasa menanyakan kabarku. Lansung aja kujawab bahwa aku belum lulus. Di ruang itu tidak hanya kami berdua ada satu temanku Marsono.

“Mas, wis sarapan durung?iki hasil masakanku dewe lho?” katanya sambil membuka tas mengeluarkan plastic yang kukira telur. “Ini kentang yang kumasak, jenenan mau khan”. Lanjutnya.

Arin-arin makanan kok dibawa kesini. Aku kala itu teringat kebaikan arin. Ya… adikku yang satu ini berbeda dengan yang lain. Ketika perjalanan dari Sragen menuju Jogja dia duduk di depanku. Seperti biasa perjalanan yang melewati kota solo pasti dipenuhi pengamen-pengamen. Dia tidak bawa uang,karena semua uangnya akulah yang bawa. Kasian dia karena pasti dia ingin memberikan uang pada pengamen cilik yang ada di bus Sumber Kencono itu.

Pengamenpun mengeluarkan bungkus permen besar. Dia berjalan dari depan ke belakang, tanpa kuduga dia juga memberika sesuatu pada anak itu. Ya… kripik ingatku pada Ibunya Titik yang tadi memberikan oleh-oleh buatnya. Inilah orang yang punya pemikiran lain. Dikala orang-orang memberikan uang receh dan ada sebagian memberikan rokok dia memberikan makanan. Akupun termenung dan menyiapkan permen Vitacimin C yang sebelum berangkat tadi diberikan Titik tuk perjalananku.

Sayang aku tidak punya piring dan sendok. Akupun menawarkan pada Marsono mau ga? Ee..diapun senyum dan geleng-geleng. Untung aja Heru datang ke kontrakan. Dan akhirnya bekas muri bapaknya itulah yang makan kentang itu. Aku hanya sedikit mencicipi masakan adikku.