Jumat, 21 Desember 2007

Saling Mengisi

Ada beberapa keanehan dalam pendidikan di masa sekarag ini. Kalau dulu para penghafal Qur’an banyak yang berjenis kelamin laki-laki. Kini cenderug perempuanlah yang bisa menghafal Qur’an. Mengapa? Disekolahpun demikian yang mempunyai prestasi cenderung perempuan. Mengapa demikian?

Analisis ini merupakan kutemukan dari perjalananku ke Jakarta bersama Bp. Budi sekeluarga dan beliulah yang nyetir mobilnya. Di jalan selalu saja Bp. Budi menanyakan kepada istrinya. “Ini nyampai mana Bu? Setelah ini mana Bu?” pertanyaan ini berulang-ulang sampai puluhan kali sepanjang perjalanan.

Dari fenomena ini kupikir mengapa seorang perempuan disekolah banyak sekali yang ranking 1. Apakah seorang wanita lebih kuat dalam menghafal daripada laki-laki. Karena system pendidikan kita mementingkan hafalan saja. Evaluasipun hanya hafalan sebagai indikatornya. Sehingga wanitalah yang mempunyai prestasi yang tinggi. Lalu kubaca dalam sebuah situs nama-nama orang yang hafal al-Qur’an. Ternyata permpuan mendominasi disana. Itu menguatkan hipotesaku.

Lain Halnya dengan seorang laki-laki. Dia merupakan sosok yang cepat mengambil keputusan, dengan analisa yang tajam. Mungkin Arin bisa menghitung jumlah mahasiswa laki-laki yang di Jurusan Matematika. Berapa yang laki-laki? Dari laki-laki itu berapakah yang tertarik di bidang keahliah analis matematis. Atau bandingkan jumlah dosen matematika yang analis matematis.

Dari fenomena tersebut sebenarnya suami isteri harus saling mengisi. Kekurangan suami adalah kurang dalam hafalan. Maka ingatkanlah suamimu. Dan seorang suami lebih kuat analisis dan mengambil keputusan, berilah alasan yang logis kepada istri sebelum mengambil keputusan.

Tidak ada komentar: