Jumat, 21 Desember 2007

Sepotong Tebu

Sawahku sore itu telah berubah menjadi tempat wisata bagi seorang yang tinggal di Jogja. Bertiga Kami pergi kesawah yang kini telah berubah menjadi hutan jati. Memang ayahku sejak tahun 97 mengubah sawah sedikit demi sedikit menjadi hutan jati. Dan kini sawah itu sudah tertanam sekitar 700an pohon jati.
Aku, Arin dan Titik membawa plastik untuk memetik Lombok hijau yang ditanam ayah di bawah pohon jati. Sesampai di sawah ternyata aku baru ingat kalo saja tadi bawa arit (sabit) barang kali bisa makan tebu di sebelah sawahku yang memang ditanami tebu. Untuk aja ada mas Diman yang mau pulan dan setelah mencari kayu disawah dengan sepeda ontelnya.
“Mas, gowo arit ora?” tanyaku pada mas Diman
“onone parang No, gawe opo?” jawabnya
“ra popo, cumin mek tebu mas” jawabku
“Iki diambil dewe neng ngisor kayu” akupun mengambil parang yang diantara boncengan sepeda dengan kayu diatasnya. Jarang petani ditempatku yang mempunyai parang. Rata-rata mereka membawa sabit di sawah. Mas Diman membawa parang ini dari Palembang. Memang selama hamper 20 tahun beliau tingga bersama keluarganya di Palembang.
“Mathurnuwun yoo.. mas” aku langsung menuju sawahku menyusul kembali Arin dan Titik yang telah berada disana.
Sesampainya disawah kita semua memetik buah Lombok yang hanya tertanam beberapa puluh aja di sawahku. Setelah selesai aku masuk kekebun tebu. Memilih tebu yang bagus untuk di makan. Dan menggunakan parang itu kupotong 2 batang tebu.
Jika ingat dulu hamper semua sawah disini ditanami tebu. Termasuk sawahku hamper 10 tahun selala ditanami tebu. Ketika aku kelaparan saat ngembala kambing, biasanya aku masuk ke kebun tebu. Tanpa bawa alat apa-apa kupatahkan batang tebu dengan tangan dan kakiku. Caranya tebu dirobohkan kemudian diinjak dekat dengan ruas dan kemudian tangan menarik ujung tebu keatas. Akhirnya tebu patah.
Yang unik megupas tebu. Tebu yang telah hilang daunnya itu kukupas dengan gigi. Yaa… Cuma dengan gigi. Dulu memang terbiasa seprti itu. Tapi sekarang aku mejai takut kalau merobek bibirku.
Kini kukupaskan tebu ini untuk tamuku. Arin yang mngaku belum pernah merasakan manisnya tebu. Dia hanya merasakan tebu setelah dimasak menjadi gula. “Mas,iki tebune sopo mas?” Tanya Arin
“Iki tebune Mbak wong Blimbing”
“jadi jenengan nyolong?” tanyanya
“Iya masyarakat sini sudah biasa ngambil tebu disawah”
“Aku pengen banget tebu, tapi sing ra colongan”
“Iya makan aja dulu entar setelah habis ta nembung sing duwe biar diikhlasin”
“Yo..mengko pokokee jenengan sing nanggung dosane”
“gah… yo ditanggung bareng-bareng, mosok cumin aku dewe”
“pokokee… jenengan mas”

Soal tebu yang mengingatkanku pada Arin. Dia memang baik dan jujur hanya makan aja hati-hati sekali. Tidak mau yang haram. Padahal masyarakat tempat tinggalku sudah biasa kalau lapar disawah atau kehausan masuk kebun tebu dan makan didalamnya. Bahkan pisang,papaya dan mangga disawah diaggap sebagai ilik masyarakat. Siapa yang duluan melihatnya masak dia bisa mengambilnya.
Arinlah yang memaksaku aku pergi ke tempat Mbak Ndari. Mbak Ndari begitulah kami sekeluarga memanggil teman kakakku yang sekarang sudah diperistri Bos Tebu. Dia memiliki hamper 75% kebun tebu di desaku. Akupun bilang sama Mbak Ndari kalo kemarin mengambil tebunya dan memohon diikhlaskan.

Tidak ada komentar: