Melihat sosok wanita yang benar-benar ceria terasa mata ini ingin selalu memandangnya. Begitulah pertama kali aku kenal dengan Ika Wulandari yang memperkenalkan diri sebagai Arin.Setelah jauh mengenal wanita ini aku kagum padanya. Cocok dia sebagai symbol yang diungkapkan oleh Achmad Chodjim sebagai jelmaan matahari. Karena di yunani tidak ada dewi matahari maka aku menyebutnya sebagai rembulan. Rembulan memantulkan sinar matahari.
Ciri matahari pertama disiplin, muncul dipagi hari diufuk timur dan hilang disore hari diufuk barat. Tak pernah sekalipun matahari muncul dari ufuk barat atau tenggelam diufuk timur. Waktunyapun tepat sehingga dulu matahari digunakan sebagai anutan dalam membuat jam.
Tanpa pamrih sebagai ciri keduanya, matahari selalu menyinari bumi walau keadaan seperti apapun, ia hanya berhenti paling lama 5 menit disaat gerhana total itupun sebenarnya dia juga bersinar hanya saja tertutup oleh bulan. Matahari sering dimaki-maki petani dan pejaan kaki karena mereka kepanasan dibuatnya. Tapi dia tetap saja bersinar dan teguh pada pendiriannya. Dia tetap saja bersinar walua dapat cercaan atau pujian. Kerjanyapun sama. Demikian ikhlasnya dia menjalankan tugas tersebut.
Adil cirri ketiganya. Matahari menyinari semua yang ada dibumi, baik itu orang jahat atau baik, kaya atau miskin, tua atau muda, pejabat atau rakyat jelata. Semua mendapat sinar matahari.
Begitulah aku kenal dengan Ika Wulandari sebagai sosok matahari. Sosok yang tak kenal disiplin tak kenal lelah, tak kenal pamrih, dan menyinari semua orang. Dia tidak pandang bulu siapa yang ditolongnya. Bahkan tidak jarang dia terkena tipu karena keibaannya pada seorang gadis yang mengaku kehilangan segalanya. Dia merelakan semuanya demi menolong orang dan kebaikan.
Aku mengagumimu wahai kekasihku. Wulan………
Rabu, 26 Desember 2007
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar