Terakhir aku bertemu Arin di Samirono 39A. Kontrakan hijau itu kutinggalkan selama beberapa bulan dan kini aku kembali kesana sekedar tuk bermalam sehari ketika liburan Idul Fitri. Kutelepon Arin sedang dimana? E… ternyata dia sudah di Jogja. “Akupun ingin berkunjung ke kostmu” begitulah kubilang padanya. Tanpa kuduga dia menjawab “Aku saja yang kekontrakanmu Mas”.
Terusnya “Kapan?”
Terusnya “Kapan?”
“Aku bisa hanya pagi ini sampai jam 7 pagi, jam 8 aku harus ke Morangan ada pertemuan dengan bosku disana” terangku. Ya…. Memang aku pulang tidak sekedar libur idul fitri tapi juga dalam rangka peresmian perusahaanku di Jogyakarta.
“tunggu aku 5 menit lagi mas” tanpa kusangka dia datang sepagi ini jam 6 pagi.
“Ok kutunggu”
“salamualaikum” langsung ditutupnya
“walaikum salam” jawabku lirih
Langsung aja aku ganti pakaian mempersiapkan acaraku jam 8 nanti. Dengan laptop didepanku aku menyiapkan segala sesuatu yang akan kubawa ke Kantor Jogja. Sambil menunggu kugunakan sedikit waktu itu. Setelah dia datag kupersilahkan masuk dan duduk di kursi jelek ruang tamuku dia menolak dam memilih duduk lesehan. Dan seperti biasa menanyakan kabarku. Lansung aja kujawab bahwa aku belum lulus. Di ruang itu tidak hanya kami berdua ada satu temanku Marsono.
“Mas, wis sarapan durung?iki hasil masakanku dewe lho?” katanya sambil membuka tas mengeluarkan plastic yang kukira telur. “Ini kentang yang kumasak, jenenan mau khan”. Lanjutnya.
Arin-arin makanan kok dibawa kesini. Aku kala itu teringat kebaikan arin. Ya… adikku yang satu ini berbeda dengan yang lain. Ketika perjalanan dari Sragen menuju Jogja dia duduk di depanku. Seperti biasa perjalanan yang melewati kota solo pasti dipenuhi pengamen-pengamen. Dia tidak bawa uang,karena semua uangnya akulah yang bawa. Kasian dia karena pasti dia ingin memberikan uang pada pengamen cilik yang ada di bus Sumber Kencono itu.
Pengamenpun mengeluarkan bungkus permen besar. Dia berjalan dari depan ke belakang, tanpa kuduga dia juga memberika sesuatu pada anak itu. Ya… kripik ingatku pada Ibunya Titik yang tadi memberikan oleh-oleh buatnya. Inilah orang yang punya pemikiran lain. Dikala orang-orang memberikan uang receh dan ada sebagian memberikan rokok dia memberikan makanan. Akupun termenung dan menyiapkan permen Vitacimin C yang sebelum berangkat tadi diberikan Titik tuk perjalananku.
Sayang aku tidak punya piring dan sendok. Akupun menawarkan pada Marsono mau ga? Ee..diapun senyum dan geleng-geleng. Untung aja Heru datang ke kontrakan. Dan akhirnya bekas muri bapaknya itulah yang makan kentang itu. Aku hanya sedikit mencicipi masakan adikku.
1 komentar:
Kupersembahkan Untukmu wahai sahabatku
Posting Komentar